BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kehidupan sehari-hari seorang eksekutif, manajer, kepala, ketua,
direktur, rektor, bupati, gubernur, menteri, panglima, presiden, atau pejabat
apapun, sesungguhnya adalah kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan.
Sering kali ia merasa hampa apabila dalam satu hari tidak mengmbil suatu
keputusan. Tidak menjadi soal apakah keputusan itu benar atau mengandung
kelemahan. Oleh sebab itu banyak manajer yang berpendapat bahwa lebih baik
membuat enam kesalahan dari sepuluh keputusan yang ia buat daripada sama sekali
tidak membuat keputusan. Bagi pejabat tersebut yang paling penting timbul rasa
kepuasan karena dapat mengmbil keputusan hari itu.
Ilustrasi itu menggambarkan bahwa pengambilan keputusan adalah aspek yang
paling penting dalam aspek manajemen. Keputusan merupakan kegiatan sentral dari
manajemen, merupakan kunci kepemimpinan, atau inti kepemimpinan (Siagian,
1988), sebagai suatu karakteristik yang fundamental, sebagai jantung kegiatan
administrasi (Mitchell, 1978), suatu saat kritis bagi tindakan administrasi
(Robins, 1978). Bahkan Higgins (1979) melanjutkan bahwa pengambilan keputusan
adalah kegiatan yang paling penting dari semua kegiatan karena di dalamnya
manajer terlibat
B.
Tujuan
Tujuan
dari penulisan makalah ini, antara lain adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui
pengertian pengambilan keputusan
2. Mengetahui
jenis –jenis pengambilan keputusan
3. Mengetahui
teknik pengambilan keputusan
4. Mengetahui
model-model pengambilan keputusan
5. Mengetahui
proses pegambilan keputusan
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
A.
Konsep Dasar Pengambilan Keputusan.
Para pakar
memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang
pemikirannya. Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di
antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:
(1) Ada
pilihan atas dasar logika atau pertimbangan;
(2) Ada
beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik
(3) Ada tujuan yang ingin dicapai dan
keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.
Pengertian
keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah
suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan
menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Dari pengertian keputusan tersebut
dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah
sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif
dari beberapa alternatif.
Setelah
dipahami pengertian keputusan, selanjutnya dikutipkan pendapat para
pakar mengenai pengertian pembuatan atau – yang sering digunakan – pengambilan
keputusan. Menurut George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan
alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang
ada. Kemudian, menurut Sondang P. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan
mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling
cepat. Selanjutnya, menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan adalah
proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan
masalah.
Berdasarkan
pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan
suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara
sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan
masalah.
B.
Jenis-jenis Pengambilan Keputusan
Keputusan Auto Generated
Keputusan semacam ini diambil dengan cepat dan kurang memperthatikan.,
mepertimbangkan data, informasi, fakta, dan lapangan keputusannya. Keputusan
auto generated ini kurang baik, sebab resikonya tinggi.
Keputusan Induced
Keputusan induced diambil berdasarkan scientific managemen atau managemen
ilmiah, sehingga keputusan itu logisk, ideal, rasional untuk dilaksanakan dan
resikonya relative kecil; cuma proses pengambilan keputusan lebih lambat.
Individual decision
Keputusan “hanya” ditetapkan oleh seorang manajer; sedang para bawahan
hanya dapat berpartisipasi memberikan saran-saran, pendapat-pendapat, dan
informasi saja, tetapi tidak berhak untuk ikut memutuskannya.
Kebaikannya:
1. keputusan
dapat diambil secara cepat
2.
penanggungjawab keputusan itu jelas
3. biaya
pengambilan keputusan relative kecil
4. kecakapan
seorang manajer dapat dimanfaatkan
Keburukannya:
1.
keputusan itu kurang baik, sebab kemampuan decision
maker terbatas
2.
prestise manajer akan berkurang, jika keputusannya
ternyata salah
3.
realisasi keputusan mengalami kesulitan, sebab para
bawahan kurang meresapinya
4.
pembinaan bawahan kurang diperhatikan, karena mereka
tidak diikutkan dalam menetapkan keputusan, akibatnya kesinambungan pimpinan
oganisasi kurang terjamin
Group
decision
Keputusan
itu ditetapkan oleh para anggota grup, baik atas hasil mufakat dan musyawarah,
maupun atas voting. Dalam proses pengambilan keputusan anggota grup ikut
berperan aktif membicarakan tujuan dari “keputusan, resiko, dan dampak
keputusan serta ikut menetapkan keputusan tersebut”.
Kebaikannya:
1.
keputusan rewlatif lebih baik, logis, ideal, sebab
merupakan hasil pemikiran dari beberapa orang
2.
kecenderungan untuk bertibdak otoriter dapat
dihindarkan
3.
kerjasama relative akan dapat ditingkatkan diantara
sesama anggota grup
4.
resiko dan dampak negative dari keputusan semakin
kecil
5.
pembinaan para annggota grup akan lebih baik
Keburukannya:
1.
pengambilan keputusan relative lama, bahkan sering
bertele-tele
2.
biaya pengambilan keputusan relative lebih banyak
3.
penanggungjawab keputusan kurang jelas
4.
minoritas kadang-kadang terpaksa menyetujui keputusan
karena kalah suara
C.
Teknik Pengambilan Keputusan
Teknik Kreatif
a. Brainstorming
Berusaha untuk menggali dan
mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan memberikan kesempatan
para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
b. Synectics
Didasarkan
pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dimaksudkan
untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok
Teknik Partisipatif
Individu atau
kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan.
Teknik partisipasi telah dibicarakan sejak awal
gerakan hubungan manusia. Dan sekarang, karena tekanan kompetisi, eliminasi
hubungan, herarki bawahan-atasan, dan munculnya tim, struktur horisontal, dan
teknologi informasi terbatas, maka organisasi, tim, dan manajer individu secara
efektif menggunakan teknik tersebut
Teknik partisipasi diterapkan secara informal
pada individu atau tim atau secara formal pada .program. Teknik partisipasi
individu adalah di mana karyawan memengaruhi pengambilan keputusan manajer.
Partisipasi kelompok menggunakan teknik konsultasi dan demokrasi. Manajer
meminta dan menerima keterlibatan karyawan dalam partisipasi konsultasi, tetapi
manajer mempertahankan hak untuk membuat keputusan. Dalam bentuk demokrasi,
terjadi partisipasi total, dan kelompok, bukan per individu, membuat keputusan
akhir dengan konsensus atau suara terbanyak.
Terdapat banyak atribut
positif dan negatif dari
pengambilan keputusan partisipasi. Menyeimbangkan atribut tersebut dalam
mengevaluasi keefektifan pengambilan keputusan partisipasi merupakan hal yang
sulit karena keterlibatan faktor-taktor seperti gaya kepemimpinan atau
kepribadian. Faktor situasional, lingkungan, dan kontekstual serta ideology. Meskipun terdapat juga
dukungan penelitian umum, bentuk teknik partisipasi yang berbeda mempunyai
hasil yang berbeda. Misalnya, partisipasi informal mempunyai efek positif pada
produktivitas dan kepuasan karyawan; partisipasi representasi mempunyai dampak
positif pada kepuasan, tetapi tidak pada produktivitas; dan partisipasi jangka
pendek tidak efektif pada kedua criteria.
Teknik Modern
1. Teknik
Delphi
Teknik Delphi termasuk ke dalam
teknik pengambilan keputusan modern yang merangsang kreativitas dengan menggunakan
pertimbangan berdasarkan gagasan orang lain untuk mencapai Konsensus dalam
pengambilan keputusan kelompok. Teknik ini juga merupakan salah satu teknik
peran serta dalam pengambilan keputusan stratejik.
Teknik Delphi merupakan latihan
dalam kelompok komunikasi antara panel secara geografis ahli (Adler dan Ziglio,
1996) yang memungkinkan para ahli teknik sistematis untuk menangani masalah
kompleks dengan suatu tugas. Inti dari teknik ini cukup mudah, yaitu terdiri
dari serangkaian kuesioner dikirim baik lewat mail atau melalui sistem
komputerisasi, untuk pra-ahli yang dipilih grup. Kuesioner ini dirancang untuk
mendapat tanggapan dan pengembangan individu sebagai cara untuk menimbulkan
masalah yang nantinya akan diperbaiki oleh pra-ahli.
2. Teknik Kelompok
Nominal
Teknik kelompok nominal (selanjutnya
dipakai singkatan TKN) adalah salah satu teknik peran serta dalam pengambilan
keputusan yang lebih jarang dipakai dibanding dengan teknik sumbang saran.
Teknik ini dikembangkan oleh Dellbecq dan Van de Ven pada tahun 1968 (Delbecq,
et all., 1975), dimaksudkan sebagai suatu cara untuk mengumpulkan pandangan dan
penilaian perorangan dalam suasana ketidakpastian dan ketidaksepakatan mengenai
inti persoalan suatu masalah, lalu mencari jalan penyelesaian yang terbaik.
Teknik kelompok nominal adalah
proses terstruktur ini mengharuskan anggota kelompok menulis gagasan/ide secara
perseorangan, kemudian melaporkannya kepada kelompok. Teknik mengurangi adanya
penyesuaian sementara memaksimalkan partisipasi. Bentuk pembuatan keputusan ini
adalah proses mengulangi pernyataan yang meminimisir penyesuaian (conformity)
dan menggerakkan peserta untuk mengambil keputusan yang dapat mereka dukung.
D.
Model-model Pengambilan Keputusan
Pendekatan pendekatan yang digunakan
seorang manajer untuk mengambil keputusan antara lain :
Model Klasik
Model ini didasarkan atas asumsi bahwa manajer seharusnya membuat
keputusan-keputusan yang masuk akal yang sekaligus merupakan kepentingan
ekonomi terbaik bagi organisasi. Model ini berdasarkan atas 4 asumsi (anggapan
dasar) yaitu:
1.
Pembuat
keputusan bertindak untuk memenuhi tujuan yang diketahui dan disetujui. Masalah
diformulasikan dan didefinisikan secara tepat.
2.
Pembuat
keputusan menghadapi situasi kepastian, beroleh informasi lengkap. Seluruh
alternatif dan pemetaan hasil dapat dikalkulasi.
3.
Kriteria
pengevaluasian alternati diketahui. Pembuat keputusan memilih alternatif yang
akan memaksimalkan hasil ekonomi bagi organisasi.
4.
Pembuat
keputusan bercorak rasional dan menggunakan logika dalam menghadapi
nilai-nilai, meminta pilihan, mengevaluasi alternatif, dan membuat keputusan
yang akan memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi.
Model Klasik juga disebut model normatif karena menjelaskan bagaimana
pembuat keputusan seharusnya membuat keputusan. Ia bukan menjelaskan bagaimana
manajer sesungguhnya membuat keputusan. Guna dari model klasik ini adalah
kemampuannya membantu manajer untuk membuat manajer bersikap rasional atau
lebih rasional lagi, karena banyak manajer cenderung membuat keputusan
berdasarkan intuisi dan pilihan pribadi.
Model klasik
adalah model pengambilan keputusan didasarkan pada asumsi ekonomi rasional dan
kekayaan menajer tentang seperti apakah seharusnya pengambilan keputusan yang ideal
itu. Model klasik dalam pengambilan keputusan di anggap sebagau model yang
normatif, yang berarti bahwa model ini menentukan bagaimana seorang pengambil
keputusan seharusnya mengambil keputusan.
Model Administratif
Pendekatan
lain yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang disebut sebagai model
adminidtratif, dianggap bersifat deskriptif, yang artinya model ini
menggambarkan bagaimana manajer benar benar melakukan pengambilan keputusan
dalam situasi yang kompleks dan bukannya mendikte bagaimana manajer seharusnya
mengambil keputusan berdasarkan teori ideal
Model ini menjelaskan bagaimana manajer
sesungguhnya membuat keputusan dalam situasi yang dicirikan oleh keputusan
Tidak Terprogram, ketidakpastian, dan ambiguitas. Model ini muncul karena banyak
keputusan manajerial bukanlah bercorak Terprogram dan manajer tidak mampu
membuat keputusan yang rasional secara ekonomi kendatipun mereka
menginginkannya.
Model Administratif dalam pembuatan keputusan
didasarkan atas karya Herbert Alexander Simon. Simon mengajukan dua konsep yang
dapat digunakan dalam membentuk model administratif: (1) Rasionalitas Terbatas
dan (2) Pemuasan.
Rasionalitas Terbatas adalah konsep bahwa orang
hanya punya waktu dan kemampuan kognitif (mengetahui) yang terbatas dalam
memproses informasi yang mendasari suatu keputusan. Keterbatasan seorang
manajer untuk memproses informasi organisasi yang rumit dan terbatasnya waktu
yang mereka miliki adalah dasar dari Rasionalitas Terbatas.
Sementara yang dimaksud dengan Pemuasan adalah
pembuat keputusan memilih alternatif solusi pertama yang memuaskan kriteria
keputusan yang minimal. Ketimbang mempelajari seluruh alternatif untuk menjawab
satu permasalahan, manajer akan memilih solusi pertama yang muncul guna
menjawab permasalahan, kendati pada alternatif lainnya solusi yang lebih baik
mungkin akan ditemui. Manajer tidak dapat mengendalikan waktu dan biaya untuk
menganalisis seluruh alternatif jawaban. Asumsi Model Administratif adalah:
1.
Tujuan
keputusan kerap konfliktual dan kurang konsensus di antara para manajer.
Manajer kerap kurang tanggap atas masalah dan peluang yang ada dalam
organisasi.
2.
Prosedur
rasional tidak selalu digunakan, yang kendatipun ada, mereka dianggap pandangan
yang simplistik atas masalah yang tidak mampu menangkap kerumitan organisasi
yang sesungguhnya.
3.
Pencarian
manajer atas alternatif terbatas akibat hambatan manusia, informasi, dan sumber
daya.
4.
Sebagian
besar manajer cenderung pada solusi pemuasan ketimbang maksimal, sebagian
akibat mereka hanya punya informasi terbatas dan sebagian karena mereka hanya
mengenali kriteria yang mereka pahami saja.
Model Administratif juga menggunakan intuisi. Intuisi adalah pengenalan
instant atas situasi keputusan berdasar pengalaman manajer sebelumnya tetapi
tanpat pemikiran yang sadar. Pembuatan keputusan secara intuitif bukanlah
irasional karena ia didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun dan penanganan
langsung atas masalah oleh seorang manajer.
Model Politik.
Model ini berguna untuk membuat keputusan Tidak Terprogram dengan kondisi
ketidakmenentuan, terbatasnya informasi, dan manajer saling berbantahan seputar
tujuan yang hendak dicapai atau tindakan apa yang harus dibuat. Dalam
organisasi, kerap masing-masing manajer mengejar tujuan yang berbeda dan mereka
harus bicara satu sama lain untuk sharing informasi dan meraih kesepakatan.
Untuk membangun kesepakatan dan mengejar tujuan, para manajer membangun
koalisi. Koalisi adalah aliansi informal di antara para manajer yang mendukung
tujuan spesifik yang sama. Model Politik paling mendekati situasi pembuatan
keputusan yang sesungguhnya. Asumsi yang mendasari model ini adalah:
1.
Organisasi
terdiri atas sejumlah kelompok yang beda kepentingan, tujuan, dan nilai-nilai.
Para manajer menunjukkan kondisi saling tidak setuju, punya prioritas
sendiri-sendiri, dan mungkin tidak saling memahami berbagai tujuan dari
pengambilan keputusan tersebut.
2.
Informasi
bersifat ambigu dan tidak lengkap. Upaya untuk rasional dibatasi oleh kerumitan
dari sejumlah masalah seperti halnya dengan hambatan-hambatan personal dan
keorganisasian.
3.
Manajer
tidak punya waktu, sumber daya atau kapasitas mental untuk mengidentifikasi
seluruh dimensi masalah dan memproses infomasi-informasi yang relevan. Manajer
saling bicara satu sama lain dan bertukar sudut pandang guna memperoleh
informasi dan mengurangi ambiguitas.
4.
Manajer
terlibat dalam tarik ulur perdebatan untuk memutuskan tujuan pengambilan
keputusan seraya mendiskusikan alternatif keputusan. Keputusan yang dihasilkan
adalah hasil tawar menawar dan diskusi di antara anggota koalisi.
Model keputusan
yang ketiga ini sangatlah berguna dalam membuat keputusan yang tidak terprogram
ketika situasinya tidak jelas, informasinya terbatas dan adanya konflik antara
manajer tentang tujuan yang akan di capai atau tindakan apa yang akan
dilakukan.manajer manajer sering kali terlibat dalam pembangunan koalisi dalam
membuat keputusan organisasi yang kompleks. Senuah koalisi dalah sebuah aliansi
tidak resmi di antara manajer manajer yang mendukung sebuah tujuan tertentu.
E.
Proses Pengambilan Keputusan
Ada beberapa
pendapat ahli mengenai proses pengambilan keputusan, antara lain :
a.
Herbert A. Simon mengemukakan
bahwa proses pengambilan keputusan terdiri dari tiga langkah, yaitu : kegiatan
intelijen (menyangkut berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi
keputusan), kegiatan desain (tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan
penganalisaan berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan) dan kegiatan
(pemilihan (pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternatif yang
tersedia).
b.
Scott dan Mitchell, Proses pengambilan keputusan
meliputi: Proses pencarian/penemuan tujuan, formulasi tujuan, pemilihan
alternatif, mengevaluasi hasil-hasil.
c.
Elbing mengungkapkan ada lima langkah
dalam proses pengambilan keputusan, yaitu : identifikasi dan diagnosa masalah,
pengumpulan dan analisis data yang relevan, pengembangan dan evaluasi
alternatif–alternatif, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan dan
evaluasi terhadap hasil-hasil.
d.
George R.
Terry merumuskan proses pengambilan keputusan sebagai berikut : merumuskan problem yang dihadapi, menganalisa problem
tersebut, menetapkan sejumlah alternatif, mengevaluasi alternatif, memilih
alternatif keputusan yang akan dilaksanakan.
e.
Peter Drucher memberikan pendapatnya mengenai
proses pengambilan keputusan : menetapkan masalah, menganalisa masalah,
mengembangkan alternatif, mengambil keputusan yang tepat dan mengambil
keputusan menjadi tindakan efektif.
Akan tetapi,
pengaruh lingkungan akan mempengaruhi
proses pengambilan keputusan. Karakteristik utama lingkungan yang tidak
ada kepastian menyulitkan kita untuk mengetahui pasti apa yang akan terjadi di
masa akan datang.
Pedoman Cara
Pengambilan Keputusan.
Pengambilan
keputusan yang benar-benar tepat itu sulit. Namun sekedar pedoman umum cara
pengambilan keputusan yang efektif dapat diberikan seperti dibawah ini :
a.
Mengetahui penyebab masalah.
b.
Mengetahui akibatnya kalau masalah itu dibiarkan
berlarut-larut.
c.
Merumuskan masalah yang jelas.
d.
Mengusahakan bahwa tujuan keputusan itu tidak
bertentangan dengan tujuan organisasi.
e.
Melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
f.
Harus yakin bahwa pelaksanaan keputusannya akan
berhasil baik.
g.
Menilai hasil pelaksanaannya.
h.
Pendekatan yang fleksibel
BAB
III
STUDI
KASUS dan ANALISIS
Studi Kasus
: Kartu Pegawai Elektronik (KPE)
Sebelumnya kartu Pegawai atau Nomor Induk Pegawai di
keluarkan sesuai kode instasi masing tapi sejak tahun 2008/2009 berubah menjadi
sesuai tahun lahir dan tahun pengangkatan pegawai tersebut mengapa?
1. DASAR HUKUM
Dasar hukum
yang melandasi dan menjadi acuan dalam rangka pelaksanaan implementasi KPE
adalah sebagai berikut :
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Pasal 12 Ayat (2) yaitu mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera serta memiliki misi yaitu menyelenggarakan manajemen PNS berbasis kompetensi untuk mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera. Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007 tentang Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil, petunjuk pelaksanaan konversi NIP,
Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang tata cara permintaan, penetapan dan penggunaan nomor identitas pegawai negeri sipil, pedoman pelaksanaan permintaan, penetapan dan penggunaan NIP. Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008 tentang Kartu Pegawai Negeri Sipil Elektronik, Petunjuk pelaksanaan penerbitan KPE.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Pasal 12 Ayat (2) yaitu mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera serta memiliki misi yaitu menyelenggarakan manajemen PNS berbasis kompetensi untuk mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera. Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007 tentang Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil, petunjuk pelaksanaan konversi NIP,
Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang tata cara permintaan, penetapan dan penggunaan nomor identitas pegawai negeri sipil, pedoman pelaksanaan permintaan, penetapan dan penggunaan NIP. Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008 tentang Kartu Pegawai Negeri Sipil Elektronik, Petunjuk pelaksanaan penerbitan KPE.
2. DEFINISI
PNS Pusat
dan PNS Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1974
tentang Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor
43 tahun 1999, termasuk CPNS. KPE Kartu Identitas PNS yang memuat data PNS dan
keluarganya secara elektronik. KPE Tambahan : Diberikan kepada setiap PNS
dan tetap berlaku setelah PNS yang bersangkutan pensiun dan KPE tambahan
diberikan pula pada suami/isteri dan anak dari penerima pensiun PNS.KPE dibuat
dengan warna dasar kuning dalam bentuk persegi panjang dengan ukuran sebagai
berikut : Panjang 85,60 mm, , Lebar 53,98 mm, Tebal 0,7 mm.
Bagian depan
KPE berlatar belakang peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang
diatasnya terdapat : Gambar burung Garuda Pancasila, Tulisan BADAN KEPEGAWAIAN
NEGARA, Tulisan KARTU PNS ELEKTRONIK (KPE), Microchip warna kuning emas serta
Nama, NIP, dan foto pemilik KPE. Tempat dan tanggal ditetapkannya KPE. Dalam
microchip memuat data elektronik pemilik KPE antara lain : data kepegawaian,
sidik jari, data keluarga, nama jabatan. Memory Usage KPE (Bytes), Main Card
for PNS 9.015-14,08% (dari 64 Kb) Additional Data for Spouse s6.378–9,96%
(dari64 Kb), Additional Data for Children 6.362-9,94% (dari 64 Kb) Biometric Data
Picture & FP Aprox. 30 Kb atau 46% (dari 64 Kb).
3.
STRATEGI DAN IMPLEMENTASI JANGKA PENDEK
Diperlukan data-data detil dari daerah :
a. Jumlah
kantor pemerintah
b. Jumlah PNS, Statistik gaji dan perjalanan dinas
c. Detil Realitas Rencana Anggaran Biaya
Implementasi dan Pendapatan
d. Implementasi pembayaran gaji dan
perjalanan dinas di pusat dan daerah di lokasi yang mudah implementasinya.
e. Implementasi di ASKES, Bapertarum dan
TASPEN, Rumah Sakit Umum Daerah, Kantor Taspen, Kantor, Bapertarum
ANALISIS STUDI KASUS
Setelah kita membaca studi kasus
diatas maka dapat kami analisa bahwa Kartu Pegawai Elektronik (KPE) merupakan
salah satu sistem informasi manajemen yang dibuat berdasarkan keputusan BKN
nomor 7 tahun 2008 guna menvalidasi seluruh data tentang Pegawai Negeri Sipil
(PNS) seluruh Indonesia yang akan bermanfaat bagi Pemerintah sebagai
stakeholder pembuat kebijakan maupun PNS sendiri untuk mendapatkan hak-hak nya.
Dasar pengambilan keputusan secara
rasional, fakta dan wewenang merupakan latar belakang pembuatan KPE. Pengambilan keputusan pembuatan KPE
dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
a. Keadaan
intern organisasi.
Dalam hal
ini meliputi : anggaran yang tersedia,
kemampuan PNS, kelengkapan peralatan dan sarana, struktur organisasi, dan lain
sebagainya.
b.
Ketersediaan informasi yang diperlukan.
Untuk
menyelesaikan masalah dalam kepegawaian, maka perlu dikumpulkan data yang
berkaitan dengan masalah tersebut. Data tersebut diolah menjadi informasi yang
lengkap, sehingga dapat diambil keputusan dengan baik.
Mengenai klasifikasi model
pengambilan keputusan, pada contoh kasus tersebut terlihat Pemerintah
menggunakan model pohon keputusan. Dimana Pemerintah merinci permasalahan yang
dihadapi PNS selama ini dan dibuatkan alternatifnya melalui KPE. Sedangkan jenis
pengambilan keputusan pembuatan KPE ini adalah Programmed Decision Making (pengambilan keputusan diprogram).
Kerana masalah administrasi kepegawaian sudah banyak sekali terjadi dan
berulang-ulang, maka dari itu Pemerintah memprogramkan pembuatan KPE.
Sistem pendukung keputusan pada
program KPE ini adalah Undang-Undang dan peraturan kepegawaian yaitu : Undang- Undang Nomor 43 tahun 1999, Peraturan
Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007, Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 dan
Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008. KPE merupakan bentuk dari Pengolahan
Data Elektonik yang merupakan proses manipulasi data ke dalam bentuk yang lebih
berarti berupa informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik. Terlepas
dari berhasil atau tidaknya pembuatan KTE ini, kita tentu mengharapkan program
ini dapat berjalan dengan baik dan mampu menjadi jalan keluar dalam permasalah
kepegawaian di Indonesia.
BAB
IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengambilan
keputusan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan organisasi. Salah
mengambil keputusan dapat berakibat pada organisasi yang dapat dirasakan
langsung dan mempengaruhi pengambilan keputusan dimasa mendatang. Pengambilan
keputusan merupakan proses identifikasi berbagai alternatif solusi terhadap
permasalahan organisasi.
Proses
mempengaruhi dan pengambilan keputusan adalah proses-proses manejerial karena
secara nyata dilaksanakan oleh para manajer. Proses-proses ini juga merupakan
proses-proses organisasional karena lebih penting daripada manajer individual
dalam pengaruhnya pada pencapaian tujuan–tujuan organisasi. Proses organisasi
dan manejemen ini merupakan bagian vital dalam sistem organisasi formal dan
mempunyai implikasi-implikasi sangat penting terhadap perilaku organisasional
maupun manajerial.
Jadi, dapat disimpulkan bersama
bahwa pengambilan keputusan secara manajerial ataupun secara organisasional
merupakan suatu proses mancapai kebijakan yang dianggap paling cocok untuk
menyelesaikan sebuah permasalahan. Pengambilan keputusan tersebut tidak hanya
sebuah pemikiran untuk menyelesaikan masalah tersebut tetapi untuk mendapatkan
keputusan yang bijak dan sesuai
diperlukan waktu yang sangat panjang dan melalui proses analisis permasalahan
dan sebagainya.
B.
Saran
Dengan
adanya KPE yang mana merupakan sebuah sistem yang dapat dikatakan memiliki
manfaatnya, yaitu seperti
a. Mendapat
kepastian fasilitas ASKES yang diperoleh
b. Mendapat kepastian besarnya tunjangan
hari tua yang akan diperoleh dari Taspen
c. Dapat mengetahui profil dan updating
data kepegawaian melalui KPE
d. Dapat mengetahui fasilitas bantuan
Taperum
e. Mendapatkan kemudahan dalam pelayanan
transaksi bank dan pembayaran gaji
f. Meningkatkan kesejahteraan PNS melalui
cash back penggunaan KPE dalam transaksi di Merchant
Maka,
diharapkan KPE dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam
transaksiyang
pada gilirannya akan meningkatkan jam kerja produktif PNS serta kinerjanya. Keputusan
pemerintah mengeluarkan KPE ini adalah menciptakan kesejahteraan bagi PNS serta
untuk mengatasi problematika yang sering terjadi pada permasalahan kinerja
pegawai tersebut. Diharapkan dengan dikeluarkan KPE tersebut para PNS mampu
meningkatkan kinerjanya, karena dalam KPE tersebut ada begitu banyak manfaat
yang mungkin didapatkan. Dan sebelum KPE ini dikeluarkan secara resmi
setidaknya pemerintah melalukan uji coba serta sosialisasi pada beberapa
pegawai negeri sipil untuk memastikan bahwa pendapatnya benar dan tepat.
DAFTAR
PUSTAKA
Daft.
L Richard. 2001. Era Baru Manajemen-edisi 9 Buku 1. Jakarta : Salemba Empat
Stoner,
A. F. James, R adward Freeman,Daniel R Gilbert. 1995. Management. New Jersey :
Prentice Hall
Sidik,
Nur Dude. 2012. Pengambilan Keputusan (Online), (http://dudenur.wordpress.com/2012/10/08/contoh-tipe-pengambilan-keputusan),
diakses pada 28 Januari 2013
Indah,
Sari Annisa. 2012. Pengambilan Keputusan (online). (http://ilmusosialpendist.blogspot.com),
diakses pada 29 Januari 2013
Anuryan
Novian. 2012. Model Pengambilan Keputusan (online). (http://noviananuryan.wordpress.com),
diakses pada 10 Februari 2013