Jumat, 28 Februari 2014

KETENAGAKERJAAN DAN KEPENDUDUKAN

KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN


MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Perekonomian Indonesia
yang dibina oleh Bapak Mardono

oleh:
Achmad Ali Husein    120431426384
Farokh Khoirun Nisa  120431426411
Luluk Fauziah             120431426398
Siti Nur Asisze            120431413947




UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI DAN STUDI PEMBANGUNAN
Februari 2014



KATA PENGANTAR

            Penulis mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat, taufik, dan hidayah-Nya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul Kependudukan dan Ketenagakerjaan secara baik dan lancar. Selesainya penulisan makalah ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis mengucapakan terima kasih, terutama kepada:
1.        Bapak Mardono selaku dosen pembimbing matakuliah Perekonomian Indonesia.
2.         Anggota kelompok yang telah bekerja keras menyelesaikan makalah ini.
3.        Teman-teman yang telah membantu menyelesaikan makalah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

            Penulis menyadari bahwa apa yang disajikan dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun penulisannya. Kekurangan-kekurangan tersebut disebabkan oleh kelemahan dan keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis baik disadari maupun tidak. Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan saran dan kritik yang konstruktif. Kekurangan-kekurangan tersebut dapat diperkecil sehingga makalah ini dapat memberikan manfaat yang maksimal.

Malang, Februari 2014


      Penulis



DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.....................................................................................  i
DAFTAR ISI...................................................................................................   ii
BAB I PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang..........................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah....................................................................................  2
C.     Tujuan Penulisan Makalah........................................................................  2
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pertumbuhan penduduk ..........................................................................   3
B.     Migrasi dan pembangunan ......................................................................   5
C.     Pengangguran dan pembangunan ...........................................................   7
D.    Hubungan antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi
Pendapatan .............................................................................................   11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................  13
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................  14




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Masalah Pola pembangunan bangsa Indonesia saat ini memerlukan penanganan yang serius terutama bidang politik, ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan. Di tengah memburuknya situasi politik yang semakin tidak menentu, ekonomi pun ikut terpuruk sehingga mengakibatkan kesejahteraan masyarakat menurun. Bahkan bidang pendidikan lebih parah lagi. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia secara umum jauh dari yang diharapkan.
Pembangunan yang seharusnya dilakukan pembangunan yang terpusat pada manusia dan masyarakat Indonesia dengan sasaran utama pada peningkatan SDM sehingga mampu berperan serta secara aktif dalam pembangunan, mandiri dan mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas nasional dalam menghadapi dan mengatasi tantangan serta permasalahan yang muncul dari dalam dan luar negeri.
Tempat yang terbaik untuk membangun bangsa sendiri adalah masyarakat bukan menggantungkan diri kepada pemerintah. Tugas pemerintah adalah bagaimana membina masyarakat berperan aktif dalam pembangunan. Bentuk pembinaan tersebut dapat ditempuh dengan jalur pendidikan karena walau bagaimanapun pendidikan tetap merupakan modal dasar keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan. Namun, di tengah memburuknya kualitas sumber daya manusia di Indonesia, timbul pula beberapa faktor yang menghambat dalam proses pendidikan yaitu kemiskinan dan pengangguran.
Pengangguran nampaknya menjadi ancaman yang serius bagi pola pembangunan Indonesia. Pengangguran ini dapat mengakibatkan terputusnya pendidikan dan kemiskinan yang semakin meningkat. Dengan semakin merebaknya budaya penganggur maka secara langsung akan dirasakan akibatnya dapa masalah sosial di masyarakat. Pengangguran adalah masalah sosial yang mendasar. Apalagi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini telah membuat pengangguran semakin merebak.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pertumbuhan dan penyebaran penduduk di Indonesia?
2.      Bagaimana proses migrasi bisa mempengaruhi pembangunan?
3.      Bagaimana tingkat pengangguran di Indonesia?
4.      Apa hubungan antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi Pendapatan

C.    Tujuan penulisan makalah
1.      Untuk mengetahui pertumbuhan dan penyebaran penduduk di Indonesia
2.      Untuk mengetahui proses migrasi mempengaruhi pembangunan
3.      Untuk mengetahui tingkat pengangguran di Indonesia
4.      Untuk mengetahui hubungan antara pengangguran, kemiskinan, dan distribusi pendapatan















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PERTUMBUHAN PENDUDUK
Masalah kependudukan yang dimaksudkan disini adalah masalah pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi di NSB. Pertumbuhan penduduk ini akan menimbulkan berbagai masalah dan hambatan bagi upaya-upaya pembangunan yang dilakukan karena pertumbuhan penduduk yang tinggi tersebut akan menyebabkan cepatnya laju pertambahan jumlah angkatan kerja,sedangkan pengangguran NSB dalam menciptakn kesempatan kerja baru sangatlah terbatas.
Disisi lain, pertumbuhan penduduk kualitas sumber daya manusia ( SDM ) yamg rendah dan sempitnya lapangan kerja merupakan akar permasalahan kemiskinan. Jadi aspek demografis mempunyai kaitan erat dengan masalah kemiskinan yang dihadapi indonesia saat ini. Daerah miskin sering ditinggalkan untuk bermigrasi ketempat lain dengan alasan mencari kerja. Mereka dapat berpindah secara permanen menjadi migran sirkuler yakni bekerja  ditempat lain dan pulang kerumahnya sekali dalam beberapa minggu atau beberapa bulan menjadi migran musiman.
Sebagai akibat dari adanya dua keadaan yang saling bertentangan diatas maka pertumbuhan penduduk biasanya dapat memicu timbulnya masalah lain seperti struktur umur mudah,jumlah pengangguran yang semakin lama semakin tinggi,urbanisasi dan lain sebagainya.
Struktur umur dan penyebaran penduduk
Besarnya golongan umur anak-anak ,yang disebabkan oleh tinggginya angka kelahiran , merupakan factor penghambat pembangunan ekonomi,kerena sebagian dari pendapatan yang diperoleh yangt sebenarnya harus ditabung untuk kemudian harus diinvestasikan bagi pembangunan ekonomi ,terpaksa harus dikeluarkan untuk keperluan sandang pangan bagi mereka yang merupakan beban tanggungan penduduk ini. Di Negara-negara yang mempunyai angka beban tanggungan rendah , investasi-investasi dapat dilaksanakan dengan baik untuk menaikkan tingkat kemakmuran Negara dan Negara-negara ini justru merupakan Negara yang sudah maju dalam kehidupan ekonomi.
Masalah kependudukan yang mempengaruhi pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan di Indonesia adalah pola penyebaran penduduk dan mobilitas tenaga kerja yang kurang seimbang, baik dilihat dari sisi antarpulau, antardaerah, maupun antara daerah perdesaan dan daerah perkotaan serta antar sektor.
Tabel 1.1
Proyeksi Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur Tahun 2008-2013
(x 1000)
Umur
2008
2009
2010
2011
2012
2013
0-4
20,582.1
20,652.3
20,727.7
20,771.3
20,815.7
20,863.0
05-09
20,100.6
20,181.9
20,260.6
20,346.9
20,431.3
20,513.6
10-14
20,583.9
20,182.3
19,789.1
19,872.2
19,962.5
20,052.8
15-19
21,457.0
21,591.1
21,738.3
21,333.9
20,936.5
20,539.8
20-24
20,982.8
20,969.8
20,958.2
21,094.2
21,231.1
21,375.4
25-29
20,580.3
20,782.5
20,913.5
20,911.8
20,913.0
20,901.3
30-34
19,312.1
19,508.2
19,727.5
20,020.4
20,273.7
20,500.1
35-39
17,726.3
18,042.3
18,342.5
18,615.5
18,868.8
19,110.1
40-44
15,812.9
16,164.9
16,517.2
16,857.1
17,197.4
17,536.4
45-49
13,630.1
14,042.2
14,445.1
14,821.7
15,184.8
15,545.5
50-54
10,971.9
11,471.9
11,959.7
12,416.4
12,851.5
13,268.1
55-59
8,194.3
8,618.3
9,061.4
9,525.0
10,013.8
10,512.4
60-64
6,046.8
6,305.6
6,595.0
6,917.5
7,267.0
7,645.4
65-69
4,620.4
4,718.2
4,854.2
5,007.2
5,188.6
5,395.8
70-74
3,513.4
3,619.2
3,681.4
3,781.2
3,856.4
3,918.6
75+
3,664.2
3,782.0
3,906.0
4,039.0
4,182.2
4,335.5
Total
227,779.1
230,632.7
233,477.4
236,331.3
239,174.3
242,013.8
B.     MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
Migrasi Internal dianggap sebagai suatu proses yang alamiah dimana surplus tenaga kerja secara perlahan ditarik dari sector tradisional di perdesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi pertumbuhan industri perkotaan. Proses tersebut dianggap bermanfaat secara social karena sumberdaya manusia berpindah dari lokasi-lokasi dimana produk social merjinalnya sering dianggap sama dengan nol ke tempat-tempat dimana produk marjinal tersebut tidak hanya positif namun juga tumbuh dengan cepat sebagai akibat dari proses akumulasi modal dan kemajuan teknologi.
Migrasi juga sering dianggap sebagai suatu proses yang dapat menghilangkan ketidakseimbangan structural antara desa-desa dengan dua cara :
1.      Dari sisi penawaran
Migrasi internal yang tidak proporsional akan menaikkan tingkat pertumbuhan pencari kerja di perkotaan sehubungan dengan adanya pertumbuhan penduduk perkotaan, karena proporsi dari penduduk usia muda yang berpendidikan cukup baik mendominasi arus migrasi ini. Kehadiran mereka ini cenderung akan menambah pertumbuhan penawaran tenaga kerja perkotaan, sementara itu terjadi penurunan jumlah sumberdaya manusia di pedesaan.
2.      Dari sisi permintaan
Penciptaan lapangan kerja di perkotaan relative lebih sulit daripada penciptaan lapangan kerja di perdesaan karena sektor industry cenderung membuutuhkan sumberdaya komplementer (misalnya modal dan mesin-mesin). Di sisi lain adanya kenaikan penawaran atas tenaga kerja yang begitu cepat dan pertumbuhan permintaan yang lambat cenderung untuk mengubah masalah ketidakseimbangan tenaga kerja dalam jangka pendek menjadi surplus tenaga kerja di daerah perkotaan dalam jangka panjang.
Proses Migrasi dan Karakteristik Para Migran
Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari suatu daerah tertentu ke daerah lainnya. Migrasi ini dipengaruhi oleh banyak factor dan kompleks. Oleh karena migrasi merupakan suatu proses memilih (selective prosses) yang mempengaruhi individu-individu dengan karakteristik-karakteristik ekonomi, social, pendidikan, dan demografis tertentu, maka pengaruh-pengaruh ekonomis dan nonekonomis tersebut dapat berbeda-beda tidak hanya antarnegara dan wilayah namun juga di dalam daerah geografis dan penduduk tertentu. Banyak penelitian awal tentang migrasi cenderung difokuskan kepada faktor-faktor social, budaya, dan psikologi saja, namun tidak memperhatikan arti penting variable-variabel ekonomi.
Penekanan-penekanan tersebut antara lain ditujukan kepada :
1)      Faktor-faktor social, termasuk hasrat para migran untuk keluar dari kendala-kendala tradisional dari organisasi-organisasi.
2)      Faktor-faktor fisikal, termasuk iklim dan bencana alam, seperti: banjir dan tanah longsor.
3)      Faktor-faktor demografis, termasuk penurunan tingkat kematian dan bersamaan dengan itu tingkat pertumbuhan penduduk perdesaan yang sangat tinggi.
4)      Faktor-faktor budaya, termasuk adanya hubungan “keluarga besar”  dan adanya anggapan tentang “gemerlapnya kehidupan kota”
5)      Faktor-faktor komunikasi yang dihasilkan oleh perbaikan transportasi, sistem pendidikan yang berorientasikan kepada perkotaan, dan dampak modernisasi dari pengenalan radio, televise, dan bioskop.
Keseluruhan faktor non-ekonomis tersebut tentu saja relevan. Namun, sekarang tampaknya telah ada kesepakatan antara para ekonom dan ahli ilmu sosial dan lainnya bahwa migrasi dari desa ke kota terutama sekali disebabkan oleh pengaruh faktor-faktor ekonomi. Secara umum, karakteristik para migran dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu : demografis, pendidikan, dan ekonomi.
1.      Karakteristik Demografis
Para migrant di perkotaan NSB pada umumnya antara 15 sampai 24 tahun. Proporsi migrant wanita tampaknya juga cenderung untuk meningkat karena semakin luasnya kesempatan-kesempatan mereka untuk bersekolah.
2.      Karakteristik Pendidikan
Salah satu temuan dari studi-studi tentang migrant adalah adanya korelasi yang positif antara kesempatan memperoleh pendidikan dan migrasi. Tampaknya ada hubungan yang jelas antara tingkat pendidikan yang dicapai dan keinginan untuk bermigrasi: orang yang berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan migrasi daripasa yang pendidikannya lebih rendah.
3.      Karakteristik ekonomi
Selama bertahun-tahun, proporsi migrasi terbanyak adalah kaum miskin yang tidak memiliki tanah dan juga tidak mempunyai keterampilan. Pada jaman penjajahan di Afrika, migrasi musiman didominasi oleh para migrasi dari berbagai tingkat pendapatan yang mencari pekerjaan di perkotaan untuk jangka pendek. Atau dengan kata lain, para migran ini dating dari semua tingkat sosio-ekonomis, namun sebagian besar dari mereka adalah masyarakat miskin karena memang sebagian besar masyarakat perdesaan adalah miskin.
C.    PENGANGGURAN DAN PEMBANGUNAN
Tingkat pertumbuhan yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran di NSB menjadi semakin serius. Tingkat pengguran terbuka di perkotaan pada negara-negara di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika rata-rata sekitar 10% dari seluruh angkatan kerja di perkotaan. Masalah ini dibandingkan lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15-24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan tinggi.
Namun demikian, tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di NSB. Tenaga kerja yang tidak bekerja secara penuh (underutilization) mempunyai berbagai wujud, termasuk di slamnya adalah fenomena underemployment dan pengangguran tersembunyi (hidden unemployment). Sekalipun data tentang underemployment di NSB sangat jarang, namun dari hasil studi menunjukkan bahwa 30% penduduk perkotaan di NSB dapat dikatakan tidak bekerja secara sepenuhnya (underutilization).


Macam-macam Pengangguran
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai arti penting masalah kesempatan kerja (employment) di perkotaan, kita harus memperhitungkan pula masalah pertambahan pengangguran terbuka yang jumlahnya lebih besar, yaitu mereka yang kelihatan aktif bekerja namun secara ekonomis sebenarnya mereka tidak bekerja secara penuh (underutilization).
Menurut Edgar O. Edwards (1974), untuk melakukan pengelompokan terhadap jenis-jenis pengangguran, kita perlu memahami dimensi-dimensi sebagai berikut:
1.      Waktu (banyak diantara mereka yang ingin bekerja lebih lama).
2.      Intensitas pekerjaan (berkaitan dengan kesehatan dan gizi makanan).
3.      Produktivitas (kurangnya produktivitas seringkali disebabkan oleh kurangnya sumberdaya komplementer dalam melakukan pekerjaan).
Meskipun hal tersebut merupakan dimensi yang paling nyata bagi seseorang untuk dpaat bekerja secara efektif, namun beberapa faktor lainnya seperti: motivasi, sikap, dan hambatan-hambatan budaya juga harus turut diperhatikan.
Berdasarkan beberapa kriteria tersebut, Edward mengklasifikasikan 5 jenis pengangguran yaitu:
1.      Pengangguran terbuka: baik sukarela (mereka yang tidak mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara terpaksa (mereka yang mau bekerja namun tidak memperoleh pekerjaan).
2.      Setengah menganggur: mereka yang bekerja lamanya (hari, minggu, musiman) kurang dari yang mereka mampu untuk kerjakan.
3.      Tampaknya bekerja namun tidak bekerja secara sepenuhnya: mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah menganggur, yang termasuk disini adalah:
a.       Pengangguran tidak kentara: yaitu para petani bekerja di ladang selama sehari penuh, padahal pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan waktu selama sehari penuh.
b.      Pengangguran tersembunyi: yaitu orang yang bekerja tidak sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya.
c.       Pensiunan lebih awal. Fenomena ini merupakan kenyataan yang terus berkembang di kalangan pegawai pemerintah. Di beberapa negara, usia pensiun dipermuda sebagai alat untuk menciptakan peluang bagi kaum muda dapat menduduki jabatan di atasnya.

4.      Tenaga kerja yang lemah: yaitu mereka yang mungkin bekerja full time, namun intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan.
5.      Tenaga kerja yang tidak produktif: yaitu mereka yang mampu untuk bekerja secara produktif, namun karena sumberdaya komplementernya kurang memadai, maka mereka tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik.

Tabel 1.3
Penduduk Berumur 15 tahun ke atas menurut jenis kegiatan tahun, 2004 - 2013
Jenis Kegiatan
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Februari
Agustus
Februari
Agustus
Februari
Agustus
Februari
Agustus
Februari
Agustus
Februari
1
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas
 165 565 992
 166 641 050
 168 264 448
 169 328 208
 171 017 416
 172 070 339
 170 656 139
 171 756 077
 172 865 970
 173 926 703
 175 098 712
2
Angkatan Kerja
 111 477 447
 111 947 265
 113 744 408
 113 833 280
 115 998 062
 116 527 546
 119 399 375
 117 370 485
 120 417 046
 118 053 110
 121 191 712

a. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)
67,33
67,18
67,60
67,23
67,83
67,72
69,96
68,34
69,66
67,88
69,21

b. Bekerja
 102 049 857
 102 552 750
 104 485 444
 104 870 663
 107 405 572
 108 207 767
 111 281 744
 109 670 399
 112 802 805
 110 808 154
 114 021 189

c. Penganguran Terbuka *)
 9 427 590
 9 394 515
 9 258 964
 8 962 617
 8 592 490
 8 319 779
 8 117 631
 7 700 086
 7 614 241
 7 244 956
 7 170 523

d. Tingkat Pengangguran Terbuka (%)
8,46
8,39
8,14
7,87
7,41
7,14
6,80
6,56
6,32
6,14
5,92
3
Bukan Angkatan Kerja
 54 088 545
 54 693 785
 54 520 040
 55 494 928
 55 019 354
 55 542 793
 51 256 764
 54 385 592
 52 448 924
 55 873 593
 53 907 000

a. Sekolah
 13 281 107
 13 226 066
 13 665 903
 13 810 846
 14 199 461
 14 011 778
 13 944 026
 13 104 294
 14 307 802
 14 084 633
 14 971 720

b. Mengurus Rumah Tangga
 32 122 769
 32 770 941
 32 578 420
 33 346 950
 32 419 795
 32 971 456
 30 005 869
 32 890 423
 31 447 888
 33 628 814
 32 185 937

c. Lainnya
 8 684 669
 8 696 778
 8 275 717
 8 337 132
 8 400 098
 8 559 559
 7 306 869
 8 390 875
 6 693 234
 8 160 146
 6 749 343













*) Pengangguran Terbuka : Mencari Pekerjaan, Mempersiapkan Usaha, Merasa Tidak Mungkin Mendapat Pekerjaan, Sudah Punya Pekerjaan tetapi belum dimulai
Sumber :Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) 2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013

D.    Hubungan antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi Pendapatan
Ada hubungan yang erat antara tingginya tingkat pengangguran, luasnya kemiskinan, dan distribusi pendapatan yang tidak merata. Bagi sebagian besar mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part-time) selalu berada di antara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk di antara kelompok masyarakat kelas menegah ke atas.
Namun demikian, sangat keliru jika kita beanggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah orang miskin. Sedangkan yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Karena kadang kala ada juga pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Orang-orang seperti ini bisa disebut pengangguran tapi belum tentu miskin.
Salah satu mekanisme pokok dalam mengurangi kemiskinan dan kepincangan distribusi pendapatan di NSB adalah dengan memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan-kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin. Oleh karena itu, peningkatan kesempatan kerja merupakan unsur yang paling esensial dalam setiap strategi pembangunan yang menitikberatkan kepada penghapusan kemiskinan.
Hubungan antara Pengangguran dan Pertumbuhan
Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi dan pengangguran memiliki hubungan yang erat. Pertumbuhan yang tinggi diharapkan akan menciptakan pertumbuhan output, sehingga dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengejar kapasitas output yang meningkat itu. Masih rendahnya daya serap tenaga kerja di negeri ini dapat memicu timbulnya permaslahan yang rumit, terutama permaslahan sosial dan ekonomi. Besarnya potensi permasalahan sosial ekonomi yang dapat terjadi mengikuti rendahnya daya serap tenaga kerja, antara lain:
1.      Rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat
2.      Rendahnya kemampuan daya beli (purchasing power) masyarakat.
3.      Meningkatnya jumlah pengangguran.
4.      Meningkatnya arus migrasi (desa-kota).
5.      Adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah.
Pada akhirnya, dampak ekonomi dari rendahnya daya serap tenaga kerja dapat mereduksi daya beli masyarak karena banyak masyarakat yang menganggur sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk konsumsi. Rendahnya daya beli masyarakat akan berdampak padaturunnya permintaan akan barang dan jasa, sehingga perekonomian mengalami “lesu” dan kegiatan sektoral pun menurun.adanya penurunan pada kegiatan ekonomi sektoral tentu saja akan berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang sudah ada.
Menurut teori ekonomi, untuk mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan adalah dengan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan ekonomi yang mampu menyediakan kesempatan kerja yang cukup besar yaitu pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh banyaknya investasi yang bersifat padat tenaga kerja, bukan bersifat padat modal. Disisi lain, ada kecenderungan bahwa belakangan ini pertumbuhan ekonomi sebagian besar bertumpu pada kegiatan konsumtif (konsumsi mayarakat). Hal tersebut harus segera dikoreksi dengan menerapkan pola pertumbuhan ekonomi yang secara dominan digerakkan oleh investasi di sektor riil.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Masalah pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi di NSB akan menimbulkan berbagai masalah dan hambatan bagi upaya-upaya pembangunan yang dilakukan. Masalah kependudukan yang mempengaruhi pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan di Indonesia adalah pola penyebaran penduduk dan mobilitas tenaga kerja yang kurang seimbang, baik dilihat dari sisi antarpulau, antardaerah, maupun antara daerah perdesaan dan daerah perkotaan serta antar sektor.
Pada akhirnya, dampak ekonomi dari rendahnya daya serap tenaga kerja dapat mereduksi daya beli masyarak karena banyak masyarakat yang menganggur sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk konsumsi. Rendahnya daya beli masyarakat akan berdampak padaturunnya permintaan akan barang dan jasa, sehingga perekonomian mengalami “lesu” dan kegiatan sektoral pun menurun.adanya penurunan pada kegiatan ekonomi sektoral tentu saja akan berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang sudah ada.




DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Upp Stin Ykpn
Berita Resmi Statistik tentang Ketenagakerjaan Februari 2013. Badan Pusat Statistik. (Online), (http://www.bps.org.uk), diakses 15 Februari 2014.
Eka, Safitri. 2012. Perkembangan Kependudukan , (Online), (http://safitrifitrieka.blogspot.com/2012/04/perkembangan-kependudukan-dan.html), diakses 15 Februari 2014.
Yani. 2013. Masalah Penduduk dan Tenaga Kerja, (Online), (http://yhaniispumpkin.blogspot.com/2013/05/masalah-penduduk-dan-tenaga-kerja-dalam_27.html), diakses 15 Februari 2014.
Ayu, Dyah. 2013. Ekonomi Pembangunan, (Online), (http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_pembangunan/bab_10_masalah_kependudukan_dan_ketenagakerjaan.pdf), diakses 15 Februari 2014.
Imron. 2013. Karakteristik Tenaga Kerja Indonesia, (Online), (http://www.gajimu.com/main/tips-karir/kiat-pekerja/karakteristik-tenaga-kerja-indonesia), diakses 15 Februari 2014.