KEPENDUDUKAN
DAN KETENAGAKERJAAN
MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Perekonomian
Indonesia
yang dibina oleh Bapak Mardono
oleh:
Achmad Ali Husein 120431426384
Farokh Khoirun Nisa 120431426411
Luluk Fauziah 120431426398
Siti Nur Asisze 120431413947
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN EKONOMI DAN STUDI
PEMBANGUNAN
Februari
2014
KATA PENGANTAR
Penulis
mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat, taufik, dan
hidayah-Nya dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul Kependudukan dan Ketenagakerjaan
secara baik dan lancar. Selesainya penulisan makalah ini tidak lepas dari
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis
mengucapakan terima kasih, terutama kepada:
1.
Bapak
Mardono selaku
dosen pembimbing matakuliah
Perekonomian Indonesia.
2.
Anggota kelompok yang telah bekerja
keras menyelesaikan makalah ini.
3.
Teman-teman yang telah membantu
menyelesaikan makalah ini yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari bahwa apa yang
disajikan dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dari segi isi maupun
penulisannya. Kekurangan-kekurangan tersebut disebabkan oleh kelemahan dan
keterbatasan pengetahuan serta kemampuan penulis baik disadari maupun tidak.
Hanya dengan kearifan dan bantuan dari berbagai pihak untuk memberikan saran
dan kritik yang konstruktif. Kekurangan-kekurangan tersebut dapat diperkecil
sehingga makalah ini dapat memberikan manfaat yang maksimal.
Malang,
Februari
2014
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah.................................................................................... 2
C.
Tujuan Penulisan Makalah........................................................................
2
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pertumbuhan
penduduk .......................................................................... 3
B.
Migrasi
dan pembangunan ...................................................................... 5
C.
Pengangguran
dan pembangunan ........................................................... 7
D.
Hubungan
antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi
Pendapatan ............................................................................................. 11
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan..............................................................................................
13
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 14
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah Pola pembangunan bangsa
Indonesia saat ini memerlukan penanganan yang serius terutama bidang politik,
ekonomi, kesejahteraan dan pendidikan. Di tengah memburuknya situasi politik
yang semakin tidak menentu, ekonomi pun ikut terpuruk sehingga mengakibatkan
kesejahteraan masyarakat menurun. Bahkan bidang pendidikan lebih parah lagi.
Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia secara umum jauh dari yang
diharapkan.
Pembangunan yang seharusnya
dilakukan pembangunan yang terpusat pada manusia dan masyarakat Indonesia
dengan sasaran utama pada peningkatan SDM sehingga mampu berperan serta secara
aktif dalam pembangunan, mandiri dan mampu meningkatkan efisiensi dan
produktivitas nasional dalam menghadapi dan mengatasi tantangan serta
permasalahan yang muncul dari dalam dan luar negeri.
Tempat yang terbaik untuk
membangun bangsa sendiri adalah masyarakat bukan menggantungkan diri kepada
pemerintah. Tugas pemerintah adalah bagaimana membina masyarakat berperan aktif
dalam pembangunan. Bentuk pembinaan tersebut dapat ditempuh dengan jalur
pendidikan karena walau bagaimanapun pendidikan tetap merupakan modal dasar
keberhasilan suatu bangsa dalam pembangunan. Namun, di tengah memburuknya
kualitas sumber daya manusia di Indonesia, timbul pula beberapa faktor yang
menghambat dalam proses pendidikan yaitu kemiskinan dan pengangguran.
Pengangguran nampaknya menjadi
ancaman yang serius bagi pola pembangunan Indonesia. Pengangguran ini dapat
mengakibatkan terputusnya pendidikan dan kemiskinan yang semakin meningkat. Dengan
semakin merebaknya budaya penganggur maka secara langsung akan dirasakan
akibatnya dapa masalah sosial di masyarakat. Pengangguran adalah masalah sosial
yang mendasar. Apalagi krisis ekonomi yang berkepanjangan ini telah membuat
pengangguran semakin merebak.
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana pertumbuhan dan penyebaran penduduk di Indonesia?
2.
Bagaimana proses migrasi bisa mempengaruhi pembangunan?
3.
Bagaimana tingkat pengangguran di Indonesia?
4.
Apa hubungan antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi Pendapatan
C. Tujuan penulisan makalah
1.
Untuk mengetahui pertumbuhan dan penyebaran penduduk di
Indonesia
2.
Untuk mengetahui proses migrasi mempengaruhi pembangunan
3.
Untuk mengetahui tingkat pengangguran di Indonesia
4.
Untuk mengetahui hubungan antara pengangguran, kemiskinan, dan distribusi pendapatan
BAB
II
PEMBAHASAN
A. PERTUMBUHAN PENDUDUK
Masalah kependudukan yang dimaksudkan disini
adalah masalah pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat tinggi di NSB.
Pertumbuhan penduduk ini akan menimbulkan berbagai masalah dan hambatan bagi
upaya-upaya pembangunan yang dilakukan karena pertumbuhan penduduk yang tinggi
tersebut akan menyebabkan cepatnya laju pertambahan jumlah angkatan
kerja,sedangkan pengangguran NSB dalam menciptakn kesempatan kerja baru sangatlah
terbatas.
Disisi lain, pertumbuhan penduduk kualitas
sumber daya manusia ( SDM ) yamg rendah dan sempitnya lapangan kerja merupakan
akar permasalahan kemiskinan. Jadi aspek demografis mempunyai kaitan erat
dengan masalah kemiskinan yang dihadapi indonesia saat ini. Daerah miskin
sering ditinggalkan untuk bermigrasi ketempat lain dengan alasan mencari kerja.
Mereka dapat berpindah secara permanen menjadi migran sirkuler yakni bekerja ditempat lain dan pulang kerumahnya sekali
dalam beberapa minggu atau beberapa bulan menjadi migran musiman.
Sebagai akibat dari adanya dua keadaan yang
saling bertentangan diatas maka pertumbuhan penduduk biasanya dapat memicu
timbulnya masalah lain seperti struktur umur mudah,jumlah pengangguran yang
semakin lama semakin tinggi,urbanisasi dan lain sebagainya.
Struktur
umur dan penyebaran penduduk
Besarnya golongan umur anak-anak ,yang
disebabkan oleh tinggginya angka kelahiran , merupakan factor penghambat
pembangunan ekonomi,kerena sebagian dari pendapatan yang diperoleh yangt
sebenarnya harus ditabung untuk kemudian harus diinvestasikan bagi pembangunan
ekonomi ,terpaksa harus dikeluarkan untuk keperluan sandang pangan bagi mereka
yang merupakan beban tanggungan penduduk ini. Di Negara-negara yang mempunyai
angka beban tanggungan rendah , investasi-investasi dapat dilaksanakan dengan
baik untuk menaikkan tingkat kemakmuran Negara dan Negara-negara ini justru
merupakan Negara yang sudah maju dalam kehidupan ekonomi.
Masalah kependudukan yang mempengaruhi
pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan di Indonesia adalah pola
penyebaran penduduk dan mobilitas tenaga kerja yang kurang seimbang, baik
dilihat dari sisi antarpulau, antardaerah, maupun antara daerah perdesaan dan
daerah perkotaan serta antar sektor.
Tabel 1.1
Proyeksi
Penduduk Indonesia Menurut Kelompok Umur Tahun 2008-2013
(x 1000)
Umur
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
0-4
|
20,582.1
|
20,652.3
|
20,727.7
|
20,771.3
|
20,815.7
|
20,863.0
|
05-09
|
20,100.6
|
20,181.9
|
20,260.6
|
20,346.9
|
20,431.3
|
20,513.6
|
10-14
|
20,583.9
|
20,182.3
|
19,789.1
|
19,872.2
|
19,962.5
|
20,052.8
|
15-19
|
21,457.0
|
21,591.1
|
21,738.3
|
21,333.9
|
20,936.5
|
20,539.8
|
20-24
|
20,982.8
|
20,969.8
|
20,958.2
|
21,094.2
|
21,231.1
|
21,375.4
|
25-29
|
20,580.3
|
20,782.5
|
20,913.5
|
20,911.8
|
20,913.0
|
20,901.3
|
30-34
|
19,312.1
|
19,508.2
|
19,727.5
|
20,020.4
|
20,273.7
|
20,500.1
|
35-39
|
17,726.3
|
18,042.3
|
18,342.5
|
18,615.5
|
18,868.8
|
19,110.1
|
40-44
|
15,812.9
|
16,164.9
|
16,517.2
|
16,857.1
|
17,197.4
|
17,536.4
|
45-49
|
13,630.1
|
14,042.2
|
14,445.1
|
14,821.7
|
15,184.8
|
15,545.5
|
50-54
|
10,971.9
|
11,471.9
|
11,959.7
|
12,416.4
|
12,851.5
|
13,268.1
|
55-59
|
8,194.3
|
8,618.3
|
9,061.4
|
9,525.0
|
10,013.8
|
10,512.4
|
60-64
|
6,046.8
|
6,305.6
|
6,595.0
|
6,917.5
|
7,267.0
|
7,645.4
|
65-69
|
4,620.4
|
4,718.2
|
4,854.2
|
5,007.2
|
5,188.6
|
5,395.8
|
70-74
|
3,513.4
|
3,619.2
|
3,681.4
|
3,781.2
|
3,856.4
|
3,918.6
|
75+
|
3,664.2
|
3,782.0
|
3,906.0
|
4,039.0
|
4,182.2
|
4,335.5
|
Total
|
227,779.1
|
230,632.7
|
233,477.4
|
236,331.3
|
239,174.3
|
242,013.8
|
B. MIGRASI DAN PEMBANGUNAN
Migrasi Internal dianggap sebagai suatu
proses yang alamiah dimana surplus tenaga kerja secara perlahan ditarik dari
sector tradisional di perdesaan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi
pertumbuhan industri perkotaan. Proses tersebut dianggap bermanfaat secara social
karena sumberdaya manusia berpindah dari lokasi-lokasi dimana produk social
merjinalnya sering dianggap sama dengan nol ke tempat-tempat dimana produk
marjinal tersebut tidak hanya positif namun juga tumbuh dengan cepat sebagai
akibat dari proses akumulasi modal dan kemajuan teknologi.
Migrasi juga sering dianggap sebagai suatu
proses yang dapat menghilangkan ketidakseimbangan structural antara desa-desa
dengan dua cara :
1.
Dari sisi penawaran
Migrasi internal yang
tidak proporsional akan menaikkan tingkat pertumbuhan pencari kerja di
perkotaan sehubungan dengan adanya pertumbuhan penduduk perkotaan, karena
proporsi dari penduduk usia muda yang berpendidikan cukup baik mendominasi arus
migrasi ini. Kehadiran mereka ini cenderung akan menambah pertumbuhan penawaran
tenaga kerja perkotaan, sementara itu terjadi penurunan jumlah sumberdaya
manusia di pedesaan.
2.
Dari sisi permintaan
Penciptaan lapangan
kerja di perkotaan relative lebih sulit daripada penciptaan lapangan kerja di
perdesaan karena sektor industry cenderung membuutuhkan sumberdaya komplementer
(misalnya modal dan mesin-mesin). Di sisi lain adanya kenaikan penawaran atas
tenaga kerja yang begitu cepat dan pertumbuhan permintaan yang lambat cenderung
untuk mengubah masalah ketidakseimbangan tenaga kerja dalam jangka pendek
menjadi surplus tenaga kerja di daerah perkotaan dalam jangka panjang.
Proses
Migrasi dan Karakteristik Para Migran
Migrasi merupakan perpindahan penduduk dari
suatu daerah tertentu ke daerah lainnya. Migrasi ini dipengaruhi oleh banyak
factor dan kompleks. Oleh karena migrasi merupakan suatu proses memilih (selective prosses) yang mempengaruhi
individu-individu dengan karakteristik-karakteristik ekonomi, social,
pendidikan, dan demografis tertentu, maka pengaruh-pengaruh ekonomis dan nonekonomis
tersebut dapat berbeda-beda tidak hanya antarnegara dan wilayah namun juga di
dalam daerah geografis dan penduduk tertentu. Banyak penelitian awal tentang
migrasi cenderung difokuskan kepada faktor-faktor social, budaya, dan psikologi
saja, namun tidak memperhatikan arti penting variable-variabel ekonomi.
Penekanan-penekanan tersebut antara lain
ditujukan kepada :
1)
Faktor-faktor social, termasuk hasrat para migran untuk
keluar dari kendala-kendala tradisional dari organisasi-organisasi.
2)
Faktor-faktor fisikal, termasuk iklim dan bencana alam,
seperti: banjir dan tanah longsor.
3)
Faktor-faktor demografis, termasuk penurunan tingkat
kematian dan bersamaan dengan itu tingkat pertumbuhan penduduk perdesaan yang
sangat tinggi.
4)
Faktor-faktor budaya, termasuk adanya hubungan “keluarga
besar” dan adanya anggapan tentang
“gemerlapnya kehidupan kota”
5)
Faktor-faktor komunikasi yang dihasilkan oleh perbaikan
transportasi, sistem pendidikan yang berorientasikan kepada perkotaan, dan
dampak modernisasi dari pengenalan radio, televise, dan bioskop.
Keseluruhan faktor non-ekonomis tersebut
tentu saja relevan. Namun, sekarang tampaknya telah ada kesepakatan antara para
ekonom dan ahli ilmu sosial dan lainnya bahwa migrasi dari desa ke kota
terutama sekali disebabkan oleh pengaruh faktor-faktor ekonomi. Secara umum,
karakteristik para migran dapat dibedakan ke dalam tiga kelompok, yaitu :
demografis, pendidikan, dan ekonomi.
1.
Karakteristik Demografis
Para migrant di perkotaan NSB pada umumnya
antara 15 sampai 24 tahun. Proporsi migrant wanita tampaknya juga cenderung
untuk meningkat karena semakin luasnya kesempatan-kesempatan mereka untuk
bersekolah.
2.
Karakteristik Pendidikan
Salah satu temuan dari studi-studi tentang
migrant adalah adanya korelasi yang positif antara kesempatan memperoleh
pendidikan dan migrasi. Tampaknya ada hubungan yang jelas antara tingkat
pendidikan yang dicapai dan keinginan untuk bermigrasi: orang yang
berpendidikan lebih tinggi cenderung lebih banyak melakukan migrasi daripasa
yang pendidikannya lebih rendah.
3.
Karakteristik ekonomi
Selama bertahun-tahun, proporsi migrasi
terbanyak adalah kaum miskin yang tidak memiliki tanah dan juga tidak mempunyai
keterampilan. Pada jaman penjajahan di Afrika, migrasi musiman didominasi oleh
para migrasi dari berbagai tingkat pendapatan yang mencari pekerjaan di
perkotaan untuk jangka pendek. Atau dengan kata lain, para migran ini dating
dari semua tingkat sosio-ekonomis, namun sebagian besar dari mereka adalah
masyarakat miskin karena memang sebagian besar masyarakat perdesaan adalah
miskin.
C. PENGANGGURAN DAN PEMBANGUNAN
Tingkat pertumbuhan yang cepat dan
pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran
di NSB menjadi semakin serius. Tingkat pengguran terbuka di perkotaan pada negara-negara
di kawasan Afrika, Asia, dan Amerika rata-rata sekitar 10% dari seluruh
angkatan kerja di perkotaan. Masalah ini dibandingkan lebih serius lagi bagi
mereka yang berusia antara 15-24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan
yang lumayan tinggi.
Namun demikian, tingkat pengangguran terbuka
di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah
kesempatan kerja di NSB. Tenaga kerja yang tidak bekerja secara penuh (underutilization) mempunyai berbagai
wujud, termasuk di slamnya adalah fenomena underemployment
dan pengangguran tersembunyi (hidden
unemployment). Sekalipun data tentang underemployment
di NSB sangat jarang, namun dari hasil studi menunjukkan bahwa 30% penduduk
perkotaan di NSB dapat dikatakan tidak bekerja secara sepenuhnya (underutilization).
Macam-macam
Pengangguran
Untuk memperoleh pemahaman yang mendalam
mengenai arti penting masalah kesempatan kerja (employment) di perkotaan, kita harus memperhitungkan pula masalah
pertambahan pengangguran terbuka yang jumlahnya lebih besar, yaitu mereka yang
kelihatan aktif bekerja namun secara ekonomis sebenarnya mereka tidak bekerja
secara penuh (underutilization).
Menurut Edgar O. Edwards (1974), untuk
melakukan pengelompokan terhadap jenis-jenis pengangguran, kita perlu memahami
dimensi-dimensi sebagai berikut:
1.
Waktu (banyak diantara mereka yang ingin bekerja lebih
lama).
2.
Intensitas pekerjaan (berkaitan dengan kesehatan dan gizi
makanan).
3.
Produktivitas (kurangnya produktivitas seringkali
disebabkan oleh kurangnya sumberdaya komplementer dalam melakukan pekerjaan).
Meskipun hal tersebut merupakan dimensi yang
paling nyata bagi seseorang untuk dpaat bekerja secara efektif, namun beberapa
faktor lainnya seperti: motivasi, sikap, dan hambatan-hambatan budaya juga
harus turut diperhatikan.
Berdasarkan beberapa kriteria tersebut,
Edward mengklasifikasikan 5 jenis pengangguran yaitu:
1.
Pengangguran terbuka: baik sukarela (mereka yang tidak
mau bekerja karena mengharapkan pekerjaan yang lebih baik) maupun secara
terpaksa (mereka yang mau bekerja namun tidak memperoleh pekerjaan).
2.
Setengah menganggur: mereka yang bekerja lamanya (hari,
minggu, musiman) kurang dari yang mereka mampu untuk kerjakan.
3.
Tampaknya bekerja namun tidak bekerja secara sepenuhnya:
mereka yang tidak digolongkan sebagai pengangguran terbuka dan setengah
menganggur, yang termasuk disini adalah:
a.
Pengangguran tidak kentara: yaitu para petani bekerja di
ladang selama sehari penuh, padahal pekerjaan itu sebenarnya tidak memerlukan
waktu selama sehari penuh.
b.
Pengangguran tersembunyi: yaitu orang yang bekerja tidak
sesuai dengan tingkat atau jenis pendidikannya.
c.
Pensiunan lebih awal. Fenomena ini merupakan kenyataan
yang terus berkembang di kalangan pegawai pemerintah. Di beberapa negara, usia
pensiun dipermuda sebagai alat untuk menciptakan peluang bagi kaum muda dapat
menduduki jabatan di atasnya.
4.
Tenaga kerja yang lemah: yaitu mereka yang mungkin
bekerja full time, namun intensitasnya
lemah karena kurang gizi atau penyakitan.
5.
Tenaga kerja yang tidak produktif: yaitu mereka yang
mampu untuk bekerja secara produktif, namun karena sumberdaya komplementernya
kurang memadai, maka mereka tidak dapat menghasilkan sesuatu yang baik.
Tabel 1.3
Penduduk Berumur 15
tahun ke atas menurut jenis kegiatan tahun, 2004 - 2013
|
|||||||||||||
Jenis
Kegiatan
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
|||||||
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
Agustus
|
Februari
|
|||
1
|
Penduduk Berumur 15
Tahun Ke Atas
|
165 565 992
|
166 641 050
|
168 264 448
|
169 328 208
|
171 017 416
|
172 070 339
|
170 656 139
|
171 756 077
|
172 865 970
|
173 926 703
|
175 098 712
|
|
2
|
Angkatan Kerja
|
111 477 447
|
111 947 265
|
113 744 408
|
113 833 280
|
115 998 062
|
116 527 546
|
119 399 375
|
117 370 485
|
120 417 046
|
118 053 110
|
121 191 712
|
|
a.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (%)
|
67,33
|
67,18
|
67,60
|
67,23
|
67,83
|
67,72
|
69,96
|
68,34
|
69,66
|
67,88
|
69,21
|
||
b. Bekerja
|
102 049 857
|
102 552 750
|
104 485 444
|
104 870 663
|
107 405 572
|
108 207 767
|
111 281 744
|
109 670 399
|
112 802 805
|
110 808 154
|
114 021 189
|
||
c. Penganguran
Terbuka *)
|
9 427 590
|
9 394 515
|
9 258 964
|
8 962 617
|
8 592 490
|
8 319 779
|
8 117 631
|
7 700 086
|
7 614 241
|
7 244 956
|
7 170 523
|
||
d. Tingkat
Pengangguran Terbuka (%)
|
8,46
|
8,39
|
8,14
|
7,87
|
7,41
|
7,14
|
6,80
|
6,56
|
6,32
|
6,14
|
5,92
|
||
3
|
Bukan Angkatan
Kerja
|
54 088 545
|
54 693 785
|
54 520 040
|
55 494 928
|
55 019 354
|
55 542 793
|
51 256 764
|
54 385 592
|
52 448 924
|
55 873 593
|
53 907 000
|
|
a. Sekolah
|
13 281 107
|
13 226 066
|
13 665 903
|
13 810 846
|
14 199 461
|
14 011 778
|
13 944 026
|
13 104 294
|
14 307 802
|
14 084 633
|
14 971 720
|
||
b. Mengurus Rumah
Tangga
|
32 122 769
|
32 770 941
|
32 578 420
|
33 346 950
|
32 419 795
|
32 971 456
|
30 005 869
|
32 890 423
|
31 447 888
|
33 628 814
|
32 185 937
|
||
c. Lainnya
|
8 684 669
|
8 696 778
|
8 275 717
|
8 337 132
|
8 400 098
|
8 559 559
|
7 306 869
|
8 390 875
|
6 693 234
|
8 160 146
|
6 749 343
|
||
*) Pengangguran Terbuka : Mencari Pekerjaan,
Mempersiapkan Usaha, Merasa Tidak Mungkin Mendapat Pekerjaan, Sudah Punya
Pekerjaan tetapi belum dimulai
|
|||||||||||||
Sumber :Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas)
2004, 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010, 2011, 2012, dan 2013
|
|||||||||||||
D. Hubungan antara Pengangguran, Kemiskinan, dan Distribusi Pendapatan
Ada hubungan yang erat antara tingginya
tingkat pengangguran, luasnya kemiskinan, dan distribusi pendapatan yang tidak
merata. Bagi sebagian besar mereka yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau
hanya bekerja paruh waktu (part-time)
selalu berada di antara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Mereka yang
bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk
di antara kelompok masyarakat kelas menegah ke atas.
Namun demikian, sangat keliru jika kita
beanggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah orang
miskin. Sedangkan yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Karena kadang
kala ada juga pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena
mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat
pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah
dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang
bisa membantu masalah keuangan mereka. Orang-orang seperti ini bisa disebut
pengangguran tapi belum tentu miskin.
Salah satu mekanisme pokok dalam mengurangi
kemiskinan dan kepincangan distribusi pendapatan di NSB adalah dengan
memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan-kesempatan kerja bagi
kelompok masyarakat miskin. Oleh karena itu, peningkatan kesempatan kerja
merupakan unsur yang paling esensial dalam setiap strategi pembangunan yang
menitikberatkan kepada penghapusan kemiskinan.
Hubungan
antara Pengangguran dan Pertumbuhan
Secara teoritis, pertumbuhan ekonomi dan
pengangguran memiliki hubungan yang erat. Pertumbuhan yang tinggi diharapkan
akan menciptakan pertumbuhan output,
sehingga dibutuhkan banyak tenaga kerja untuk mengejar kapasitas output yang meningkat itu. Masih
rendahnya daya serap tenaga kerja di negeri ini dapat memicu timbulnya
permaslahan yang rumit, terutama permaslahan sosial dan ekonomi. Besarnya
potensi permasalahan sosial ekonomi yang dapat terjadi mengikuti rendahnya daya
serap tenaga kerja, antara lain:
1.
Rendahnya kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat
2.
Rendahnya kemampuan daya beli (purchasing power) masyarakat.
3.
Meningkatnya jumlah pengangguran.
4.
Meningkatnya arus migrasi (desa-kota).
5.
Adanya ketimpangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah.
Pada akhirnya, dampak ekonomi dari rendahnya
daya serap tenaga kerja dapat mereduksi daya beli masyarak karena banyak
masyarakat yang menganggur sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk
konsumsi. Rendahnya daya beli masyarakat akan berdampak padaturunnya permintaan
akan barang dan jasa, sehingga perekonomian mengalami “lesu” dan kegiatan
sektoral pun menurun.adanya penurunan pada kegiatan ekonomi sektoral tentu saja
akan berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang sudah ada.
Menurut teori ekonomi, untuk mengatasi
persoalan pengangguran dan kemiskinan adalah dengan menciptakan pertumbuhan
ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan. Yang dimaksud dengan pertumbuhan
ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan ekonomi yang mampu menyediakan
kesempatan kerja yang cukup besar yaitu pertumbuhan ekonomi yang dipicu oleh
banyaknya investasi yang bersifat padat tenaga kerja, bukan bersifat padat modal.
Disisi lain, ada kecenderungan bahwa belakangan ini pertumbuhan ekonomi
sebagian besar bertumpu pada kegiatan konsumtif (konsumsi mayarakat). Hal
tersebut harus segera dikoreksi dengan menerapkan pola pertumbuhan ekonomi yang
secara dominan digerakkan oleh investasi di sektor riil.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Masalah pertumbuhan jumlah penduduk yang
sangat tinggi di NSB akan menimbulkan berbagai masalah dan hambatan bagi
upaya-upaya pembangunan yang dilakukan. Masalah kependudukan yang mempengaruhi
pelaksanaan dan pencapaian tujuan pembangunan di Indonesia adalah pola
penyebaran penduduk dan mobilitas tenaga kerja yang kurang seimbang, baik
dilihat dari sisi antarpulau, antardaerah, maupun antara daerah perdesaan dan
daerah perkotaan serta antar sektor.
Pada akhirnya, dampak ekonomi dari rendahnya
daya serap tenaga kerja dapat mereduksi daya beli masyarak karena banyak
masyarakat yang menganggur sehingga mereka tidak mempunyai pendapatan untuk
konsumsi. Rendahnya daya beli masyarakat akan berdampak padaturunnya permintaan
akan barang dan jasa, sehingga perekonomian mengalami “lesu” dan kegiatan
sektoral pun menurun.adanya penurunan pada kegiatan ekonomi sektoral tentu saja
akan berdampak pada pengurangan jumlah tenaga kerja yang sudah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Arsyad,
Lincolin. 2010. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta: Upp Stin Ykpn
Berita
Resmi Statistik tentang Ketenagakerjaan Februari 2013. Badan Pusat Statistik.
(Online), (http://www.bps.org.uk), diakses 15 Februari 2014.
Eka, Safitri. 2012.
Perkembangan Kependudukan , (Online), (http://safitrifitrieka.blogspot.com/2012/04/perkembangan-kependudukan-dan.html), diakses 15 Februari 2014.
Yani. 2013. Masalah Penduduk
dan Tenaga Kerja, (Online), (http://yhaniispumpkin.blogspot.com/2013/05/masalah-penduduk-dan-tenaga-kerja-dalam_27.html), diakses 15 Februari 2014.
Ayu, Dyah. 2013. Ekonomi
Pembangunan, (Online), (http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_pembangunan/bab_10_masalah_kependudukan_dan_ketenagakerjaan.pdf), diakses 15 Februari 2014.
Imron. 2013. Karakteristik
Tenaga Kerja Indonesia, (Online), (http://www.gajimu.com/main/tips-karir/kiat-pekerja/karakteristik-tenaga-kerja-indonesia), diakses 15 Februari 2014.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar