Minggu, 02 Maret 2014

Pengambilan Keputusan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kehidupan sehari-hari seorang eksekutif, manajer, kepala, ketua, direktur, rektor, bupati, gubernur, menteri, panglima, presiden, atau pejabat apapun, sesungguhnya adalah kehidupan yang selalu bergumul dengan keputusan. Sering kali ia merasa hampa apabila dalam satu hari tidak mengmbil suatu keputusan. Tidak menjadi soal apakah keputusan itu benar atau mengandung kelemahan. Oleh sebab itu banyak manajer yang berpendapat bahwa lebih baik membuat enam kesalahan dari sepuluh keputusan yang ia buat daripada sama sekali tidak membuat keputusan. Bagi pejabat tersebut yang paling penting timbul rasa kepuasan karena dapat mengmbil keputusan hari itu.
Ilustrasi itu menggambarkan bahwa pengambilan keputusan adalah aspek yang paling penting dalam aspek manajemen. Keputusan merupakan kegiatan sentral dari manajemen, merupakan kunci kepemimpinan, atau inti kepemimpinan (Siagian, 1988), sebagai suatu karakteristik yang fundamental, sebagai jantung kegiatan administrasi (Mitchell, 1978), suatu saat kritis bagi tindakan administrasi (Robins, 1978). Bahkan Higgins (1979) melanjutkan bahwa pengambilan keputusan adalah kegiatan yang paling penting dari semua kegiatan karena di dalamnya manajer terlibat
B.     Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini, antara lain adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui pengertian pengambilan keputusan
2.      Mengetahui jenis –jenis pengambilan keputusan
3.      Mengetahui teknik pengambilan keputusan
4.      Mengetahui model-model pengambilan keputusan
5.      Mengetahui proses pegambilan keputusan


BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Konsep Dasar Pengambilan Keputusan.

Para pakar memberikan pengertian keputusan sesuai dengan sudut pandang dan latar belakang pemikirannya.  Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah pemilihan di antara berbagai alternatif. Definisi ini mengandung tiga pengertian, yaitu:
(1)        Ada pilihan atas dasar logika atau pertimbangan;
(2)        Ada beberapa alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik
(3)        Ada tujuan yang ingin dicapai dan keputusan itu makin mendekatkan pada tujuan tersebut.

Pengertian keputusan yang lain dikemukakan oleh Prajudi Atmosudirjo bahwa keputusan adalah suatu pengakhiran daripada proses pemikiran tentang suatu masalah dengan menjatuhkan pilihan pada suatu alternatif. Dari pengertian keputusan tersebut dapat diperoleh pemahaman bahwa keputusan merupakan suatu pemecahan masalah sebagai suatu hukum situasi yang dilakukan melalui pemilihan satu alternatif dari beberapa alternatif.

Setelah dipahami pengertian keputusan, selanjutnya dikutipkan pendapat para pakar mengenai pengertian pembuatan atau – yang sering digunakan – pengambilan keputusan. Menurut George R. Terry pengambilan keputusan adalah pemilihan alternatif perilaku (kelakuan) tertentu dari dua atau lebih alternatif yang ada. Kemudian, menurut Sondang P. Siagian pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan yang sistematis terhadap hakikat alternatif yang dihadapi dan mengambil tindakan yang menurut perhitungan merupakan tindakan yang paling cepat. Selanjutnya, menurut James A. F. Stoner pengambilan keputusan adalah proses yang digunakan untuk memilih suatu tindakan sebagai cara pemecahan masalah.
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pengambilan keputusan merupakan suatu proses pemilihan alternatif terbaik dari beberapa alternatif secara sistematis untuk ditindaklanjuti (digunakan) sebagai suatu cara pemecahan masalah.

B.     Jenis-jenis Pengambilan Keputusan
Keputusan Auto Generated
Keputusan semacam ini diambil dengan cepat dan kurang memperthatikan., mepertimbangkan data, informasi, fakta, dan lapangan keputusannya. Keputusan auto generated ini kurang baik, sebab resikonya tinggi.

Keputusan Induced
Keputusan induced diambil berdasarkan scientific managemen atau managemen ilmiah, sehingga keputusan itu logisk, ideal, rasional untuk dilaksanakan dan resikonya relative kecil; cuma proses pengambilan keputusan lebih lambat.

Individual decision
Keputusan “hanya” ditetapkan oleh seorang manajer; sedang para bawahan hanya dapat berpartisipasi memberikan saran-saran, pendapat-pendapat, dan informasi saja, tetapi tidak berhak untuk ikut memutuskannya.
Kebaikannya:
1. keputusan dapat diambil secara cepat
2. penanggungjawab keputusan itu jelas
3. biaya pengambilan keputusan relative kecil
4. kecakapan seorang manajer dapat dimanfaatkan


Keburukannya:
1.      keputusan itu kurang baik, sebab kemampuan decision maker terbatas
2.      prestise manajer akan berkurang, jika keputusannya ternyata salah
3.      realisasi keputusan mengalami kesulitan, sebab para bawahan kurang meresapinya
4.      pembinaan bawahan kurang diperhatikan, karena mereka tidak diikutkan dalam menetapkan keputusan, akibatnya kesinambungan pimpinan oganisasi kurang terjamin
Group decision
Keputusan itu ditetapkan oleh para anggota grup, baik atas hasil mufakat dan musyawarah, maupun atas voting. Dalam proses pengambilan keputusan anggota grup ikut berperan aktif membicarakan tujuan dari “keputusan, resiko, dan dampak keputusan serta ikut menetapkan keputusan tersebut”.
Kebaikannya:
1.      keputusan rewlatif lebih baik, logis, ideal, sebab merupakan hasil pemikiran dari beberapa orang
2.      kecenderungan untuk bertibdak otoriter dapat dihindarkan
3.      kerjasama relative akan dapat ditingkatkan diantara sesama anggota grup
4.      resiko dan dampak negative dari keputusan semakin kecil
5.      pembinaan para annggota grup akan lebih baik

Keburukannya:
1.      pengambilan keputusan relative lama, bahkan sering bertele-tele
2.      biaya pengambilan keputusan relative lebih banyak
3.      penanggungjawab keputusan kurang jelas
4.      minoritas kadang-kadang terpaksa menyetujui keputusan karena kalah suara


C.     Teknik Pengambilan Keputusan
 Teknik Kreatif
a.             Brainstorming
Berusaha untuk menggali dan mendapatkan kreatifitas maksimum dari kelompok dengan memberikan kesempatan para anggota untuk melontarkan ide-idenya.
b.          Synectics
Didasarkan pada asumsi bahwa proses kreatif dapat dijabarkan dan diajarkan, dimaksudkan untuk meningktakan keluaran (output) kreatif individual dan kelompok

Teknik Partisipatif
Individu atau kelompok dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan. Teknik partisipasi telah dibicarakan sejak awal gerakan hubungan manusia. Dan sekarang, karena tekanan kompetisi, eliminasi hubungan, herarki bawahan-atasan, dan munculnya tim, struktur horisontal, dan teknologi informasi terbatas, maka organisasi, tim, dan manajer individu secara efektif menggunakan teknik tersebut
Teknik partisipasi diterapkan secara informal pada individu atau tim atau secara formal pada .program. Teknik partisipasi individu adalah di mana karyawan memengaruhi pengambilan keputusan manajer. Partisipasi kelompok menggunakan teknik konsultasi dan demokrasi. Manajer meminta dan menerima keterlibatan karyawan dalam partisipasi konsultasi, tetapi manajer mempertahankan hak untuk membuat keputusan. Dalam bentuk demokrasi, terjadi partisipasi total, dan kelompok, bukan per individu, membuat keputusan akhir dengan konsensus atau suara terbanyak.
Terdapat banyak atribut positif dan negatif dari pengambilan keputusan partisipasi. Menye­imbangkan atribut tersebut dalam mengevaluasi keefektifan pengambilan keputusan partisipasi merupakan hal yang sulit karena keterlibatan faktor-taktor seperti gaya kepemimpinan atau kepribadian. Faktor situasional, lingkungan, dan kontekstual  serta ideology. Meskipun terdapat juga dukungan penelitian umum, bentuk teknik partisipasi yang berbeda mempunyai hasil yang berbeda. Misalnya, partisipasi informal mempunyai efek positif pada produktivitas dan kepuasan karyawan; partisipasi representasi mempunyai dampak positif pada kepuasan, tetapi tidak pada produktivitas; dan partisipasi jangka pendek tidak efektif pada kedua criteria.
Teknik Modern
1.       Teknik Delphi
Teknik Delphi termasuk ke dalam teknik pengambilan keputusan modern yang merangsang kreativitas dengan menggunakan pertimbangan berdasarkan gagasan orang lain untuk mencapai Konsensus dalam pengambilan keputusan kelompok. Teknik ini juga merupakan salah satu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan stratejik.
Teknik Delphi merupakan latihan dalam kelompok komunikasi antara panel secara geografis ahli (Adler dan Ziglio, 1996) yang memungkinkan para ahli teknik sistematis untuk menangani masalah kompleks dengan suatu tugas. Inti dari teknik ini cukup mudah, yaitu terdiri dari serangkaian kuesioner dikirim baik lewat mail atau melalui sistem komputerisasi, untuk pra-ahli yang dipilih grup. Kuesioner ini dirancang untuk mendapat tanggapan dan pengembangan individu sebagai cara untuk menimbulkan masalah yang nantinya akan diperbaiki oleh pra-ahli.
2.       Teknik Kelompok Nominal
Teknik kelompok nominal (selanjutnya dipakai singkatan TKN) adalah salah satu teknik peran serta dalam pengambilan keputusan yang lebih jarang dipakai dibanding dengan teknik sumbang saran. Teknik ini dikembangkan oleh Dellbecq dan Van de Ven pada tahun 1968 (Delbecq, et all., 1975), dimaksudkan sebagai suatu cara untuk mengumpulkan pandangan dan penilaian perorangan dalam suasana ketidakpastian dan ketidaksepakatan mengenai inti persoalan suatu masalah, lalu mencari jalan penyelesaian yang terbaik.
Teknik kelompok nominal adalah proses terstruktur ini mengharuskan anggota kelompok menulis gagasan/ide secara perseorangan, kemudian melaporkannya kepada kelompok. Teknik mengurangi adanya penyesuaian sementara memaksimalkan partisipasi. Bentuk pembuatan keputusan ini adalah proses mengulangi pernyataan yang meminimisir penyesuaian (conformity) dan menggerakkan peserta untuk mengambil keputusan yang dapat mereka dukung.

D.    Model-model Pengambilan Keputusan
Pendekatan pendekatan yang digunakan seorang manajer untuk mengambil keputusan antara lain :
Model Klasik
Model ini didasarkan atas asumsi bahwa manajer seharusnya membuat keputusan-keputusan yang masuk akal yang sekaligus merupakan kepentingan ekonomi terbaik bagi organisasi. Model ini berdasarkan atas 4 asumsi (anggapan dasar) yaitu:
1.      Pembuat keputusan bertindak untuk memenuhi tujuan yang diketahui dan disetujui. Masalah diformulasikan dan didefinisikan secara tepat.
2.      Pembuat keputusan menghadapi situasi kepastian, beroleh informasi lengkap. Seluruh alternatif dan pemetaan hasil dapat dikalkulasi.
3.      Kriteria pengevaluasian alternati diketahui. Pembuat keputusan memilih alternatif yang akan memaksimalkan hasil ekonomi bagi organisasi.
4.      Pembuat keputusan bercorak rasional dan menggunakan logika dalam menghadapi nilai-nilai, meminta pilihan, mengevaluasi alternatif, dan membuat keputusan yang akan memaksimalkan pencapaian tujuan organisasi.
Model Klasik juga disebut model normatif karena menjelaskan bagaimana pembuat keputusan seharusnya membuat keputusan. Ia bukan menjelaskan bagaimana manajer sesungguhnya membuat keputusan. Guna dari model klasik ini adalah kemampuannya membantu manajer untuk membuat manajer bersikap rasional atau lebih rasional lagi, karena banyak manajer cenderung membuat keputusan berdasarkan intuisi dan pilihan pribadi.
Model klasik adalah model pengambilan keputusan didasarkan pada asumsi ekonomi rasional dan kekayaan menajer tentang seperti apakah seharusnya pengambilan keputusan yang ideal itu. Model klasik dalam pengambilan keputusan di anggap sebagau model yang normatif, yang berarti bahwa model ini menentukan bagaimana seorang pengambil keputusan seharusnya mengambil keputusan.
Model Administratif
Pendekatan lain yang digunakan dalam pengambilan keputusan yang disebut sebagai model adminidtratif, dianggap bersifat deskriptif, yang artinya model ini menggambarkan bagaimana manajer benar benar melakukan pengambilan keputusan dalam situasi yang kompleks dan bukannya mendikte bagaimana manajer seharusnya mengambil keputusan berdasarkan teori ideal
Model ini menjelaskan bagaimana manajer sesungguhnya membuat keputusan dalam situasi yang dicirikan oleh keputusan Tidak Terprogram, ketidakpastian, dan ambiguitas. Model ini muncul karena banyak keputusan manajerial bukanlah bercorak Terprogram dan manajer tidak mampu membuat keputusan yang rasional secara ekonomi kendatipun mereka menginginkannya.


Model Administratif dalam pembuatan keputusan didasarkan atas karya Herbert Alexander Simon. Simon mengajukan dua konsep yang dapat digunakan dalam membentuk model administratif: (1) Rasionalitas Terbatas dan (2) Pemuasan.
Rasionalitas Terbatas adalah konsep bahwa orang hanya punya waktu dan kemampuan kognitif (mengetahui) yang terbatas dalam memproses informasi yang mendasari suatu keputusan. Keterbatasan seorang manajer untuk memproses informasi organisasi yang rumit dan terbatasnya waktu yang mereka miliki adalah dasar dari Rasionalitas Terbatas.
Sementara yang dimaksud dengan Pemuasan adalah pembuat keputusan memilih alternatif solusi pertama yang memuaskan kriteria keputusan yang minimal. Ketimbang mempelajari seluruh alternatif untuk menjawab satu permasalahan, manajer akan memilih solusi pertama yang muncul guna menjawab permasalahan, kendati pada alternatif lainnya solusi yang lebih baik mungkin akan ditemui. Manajer tidak dapat mengendalikan waktu dan biaya untuk menganalisis seluruh alternatif jawaban. Asumsi Model Administratif adalah:
1.      Tujuan keputusan kerap konfliktual dan kurang konsensus di antara para manajer. Manajer kerap kurang tanggap atas masalah dan peluang yang ada dalam organisasi.
2.      Prosedur rasional tidak selalu digunakan, yang kendatipun ada, mereka dianggap pandangan yang simplistik atas masalah yang tidak mampu menangkap kerumitan organisasi yang sesungguhnya.
3.      Pencarian manajer atas alternatif terbatas akibat hambatan manusia, informasi, dan sumber daya.
4.      Sebagian besar manajer cenderung pada solusi pemuasan ketimbang maksimal, sebagian akibat mereka hanya punya informasi terbatas dan sebagian karena mereka hanya mengenali kriteria yang mereka pahami saja.

Model Administratif juga menggunakan intuisi. Intuisi adalah pengenalan instant atas situasi keputusan berdasar pengalaman manajer sebelumnya tetapi tanpat pemikiran yang sadar. Pembuatan keputusan secara intuitif bukanlah irasional karena ia didasarkan pada pengalaman bertahun-tahun dan penanganan langsung atas masalah oleh seorang manajer.

Model Politik.
Model ini berguna untuk membuat keputusan Tidak Terprogram dengan kondisi ketidakmenentuan, terbatasnya informasi, dan manajer saling berbantahan seputar tujuan yang hendak dicapai atau tindakan apa yang harus dibuat. Dalam organisasi, kerap masing-masing manajer mengejar tujuan yang berbeda dan mereka harus bicara satu sama lain untuk sharing informasi dan meraih kesepakatan.

Untuk membangun kesepakatan dan mengejar tujuan, para manajer membangun koalisi. Koalisi adalah aliansi informal di antara para manajer yang mendukung tujuan spesifik yang sama. Model Politik paling mendekati situasi pembuatan keputusan yang sesungguhnya. Asumsi yang mendasari model ini adalah:
1.      Organisasi terdiri atas sejumlah kelompok yang beda kepentingan, tujuan, dan nilai-nilai. Para manajer menunjukkan kondisi saling tidak setuju, punya prioritas sendiri-sendiri, dan mungkin tidak saling memahami berbagai tujuan dari pengambilan keputusan tersebut.
2.      Informasi bersifat ambigu dan tidak lengkap. Upaya untuk rasional dibatasi oleh kerumitan dari sejumlah masalah seperti halnya dengan hambatan-hambatan personal dan keorganisasian.
3.      Manajer tidak punya waktu, sumber daya atau kapasitas mental untuk mengidentifikasi seluruh dimensi masalah dan memproses infomasi-informasi yang relevan. Manajer saling bicara satu sama lain dan bertukar sudut pandang guna memperoleh informasi dan mengurangi ambiguitas.
4.      Manajer terlibat dalam tarik ulur perdebatan untuk memutuskan tujuan pengambilan keputusan seraya mendiskusikan alternatif keputusan. Keputusan yang dihasilkan adalah hasil tawar menawar dan diskusi di antara anggota koalisi.
Model keputusan yang ketiga ini sangatlah berguna dalam membuat keputusan yang tidak terprogram ketika situasinya tidak jelas, informasinya terbatas dan adanya konflik antara manajer tentang tujuan yang akan di capai atau tindakan apa yang akan dilakukan.manajer manajer sering kali terlibat dalam pembangunan koalisi dalam membuat keputusan organisasi yang kompleks. Senuah koalisi dalah sebuah aliansi tidak resmi di antara manajer manajer yang mendukung sebuah tujuan tertentu.
E.            Proses Pengambilan Keputusan
Ada beberapa pendapat ahli mengenai proses pengambilan keputusan, antara lain :
a.      Herbert A. Simon mengemukakan bahwa proses pengambilan keputusan terdiri dari tiga langkah, yaitu : kegiatan intelijen (menyangkut berbagai kondisi lingkungan yang diperlukan bagi keputusan), kegiatan desain (tahap ini menyangkut pembuatan pengembangan dan penganalisaan berbagai rangkaian kegiatan yang mungkin dilakukan) dan kegiatan (pemilihan (pemilihan serangkaian kegiatan tertentu dari alternatif yang tersedia).
b.      Scott dan Mitchell, Proses pengambilan keputusan meliputi: Proses pencarian/penemuan tujuan, formulasi tujuan, pemilihan alternatif,  mengevaluasi hasil-hasil.
c.       Elbing mengungkapkan ada lima langkah dalam proses pengambilan keputusan, yaitu : identifikasi dan diagnosa masalah, pengumpulan dan analisis data yang relevan, pengembangan dan evaluasi alternatif–alternatif, pemilihan alternatif terbaik, implementasi keputusan dan evaluasi terhadap hasil-hasil.
d.     George R. Terry merumuskan proses pengambilan keputusan sebagai berikut : merumuskan  problem yang dihadapi, menganalisa problem tersebut, menetapkan sejumlah alternatif, mengevaluasi alternatif, memilih alternatif keputusan yang akan dilaksanakan.
e.       Peter Drucher memberikan pendapatnya mengenai proses pengambilan keputusan : menetapkan masalah, menganalisa masalah, mengembangkan alternatif, mengambil keputusan yang tepat dan mengambil keputusan menjadi tindakan efektif.
Akan tetapi, pengaruh lingkungan akan mempengaruhi  proses pengambilan keputusan. Karakteristik utama lingkungan yang tidak ada kepastian menyulitkan kita untuk mengetahui pasti apa yang akan terjadi di masa akan datang.
Pedoman Cara Pengambilan Keputusan.
Pengambilan keputusan yang benar-benar tepat itu sulit. Namun sekedar pedoman umum cara pengambilan keputusan yang efektif dapat diberikan seperti dibawah ini :
a.       Mengetahui penyebab masalah.
b.      Mengetahui akibatnya kalau masalah itu dibiarkan berlarut-larut.
c.       Merumuskan masalah yang jelas.
d.      Mengusahakan bahwa tujuan keputusan itu tidak bertentangan dengan tujuan organisasi.
e.       Melibatkan bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
f.       Harus yakin bahwa pelaksanaan keputusannya akan berhasil baik.
g.      Menilai hasil pelaksanaannya.
h.      Pendekatan yang fleksibel


BAB III
STUDI KASUS dan ANALISIS

Studi Kasus : Kartu Pegawai Elektronik (KPE)
Sebelumnya kartu Pegawai atau Nomor Induk Pegawai di keluarkan sesuai kode instasi masing tapi sejak tahun 2008/2009 berubah menjadi sesuai tahun lahir dan tahun pengangkatan pegawai tersebut mengapa?

1.        DASAR HUKUM
Dasar hukum yang melandasi dan menjadi acuan dalam rangka pelaksanaan implementasi KPE adalah sebagai berikut :
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian Pasal 12 Ayat (2) yaitu mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera serta memiliki misi yaitu menyelenggarakan manajemen PNS berbasis kompetensi untuk mewujudkan PNS yang profesional dan sejahtera. Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007 tentang Nomor Identitas Pegawai Negeri Sipil, petunjuk pelaksanaan konversi NIP,
Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 tentang tata cara permintaan, penetapan dan penggunaan nomor identitas pegawai negeri sipil, pedoman pelaksanaan permintaan, penetapan dan penggunaan NIP. Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008 tentang Kartu Pegawai Negeri Sipil Elektronik,  Petunjuk pelaksanaan penerbitan KPE.

2.          DEFINISI
PNS Pusat dan PNS Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang- Undang Nomor 43 tahun 1999, termasuk CPNS. KPE Kartu Identitas PNS yang memuat data PNS dan keluarganya  secara elektronik. KPE Tambahan : Diberikan kepada setiap PNS dan tetap berlaku setelah PNS yang bersangkutan pensiun dan KPE tambahan diberikan pula pada suami/isteri dan anak dari penerima pensiun PNS.KPE dibuat dengan warna dasar kuning dalam bentuk persegi panjang dengan ukuran sebagai berikut : Panjang 85,60 mm, , Lebar 53,98 mm, Tebal 0,7 mm.
Bagian depan KPE berlatar belakang peta wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatasnya terdapat : Gambar burung Garuda Pancasila, Tulisan BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA, Tulisan KARTU PNS ELEKTRONIK (KPE), Microchip warna kuning emas serta Nama, NIP, dan foto pemilik KPE. Tempat dan tanggal ditetapkannya KPE. Dalam microchip memuat data elektronik pemilik KPE antara lain : data kepegawaian, sidik jari, data keluarga, nama jabatan. Memory Usage KPE (Bytes), Main Card for PNS 9.015-14,08% (dari 64 Kb) Additional Data for Spouse s6.378–9,96% (dari64 Kb), Additional Data for Children 6.362-9,94% (dari 64 Kb) Biometric Data Picture & FP Aprox. 30 Kb atau 46% (dari 64 Kb).
3.                  STRATEGI DAN IMPLEMENTASI JANGKA PENDEK
Diperlukan data-data detil dari daerah :
a.         Jumlah kantor pemerintah
b.         Jumlah PNS, Statistik gaji dan perjalanan dinas
c.         Detil Realitas Rencana Anggaran Biaya Implementasi dan  Pendapatan
d.         Implementasi pembayaran gaji dan perjalanan dinas di pusat dan daerah di lokasi yang mudah implementasinya.
e.         Implementasi di ASKES, Bapertarum dan TASPEN, Rumah Sakit Umum Daerah, Kantor Taspen, Kantor, Bapertarum

ANALISIS STUDI KASUS
          Setelah kita membaca studi kasus diatas maka dapat kami analisa bahwa Kartu Pegawai Elektronik (KPE) merupakan salah satu sistem informasi manajemen yang dibuat berdasarkan keputusan BKN nomor 7 tahun 2008 guna menvalidasi seluruh data tentang Pegawai Negeri Sipil (PNS) seluruh Indonesia yang akan bermanfaat bagi Pemerintah sebagai stakeholder pembuat kebijakan maupun PNS sendiri untuk mendapatkan hak-hak nya.
          Dasar pengambilan keputusan secara rasional, fakta dan wewenang merupakan latar belakang pembuatan KPE.   Pengambilan keputusan pembuatan KPE dipengaruhi beberapa faktor antara lain :
a.       Keadaan intern organisasi.
Dalam hal ini  meliputi : anggaran yang tersedia, kemampuan PNS, kelengkapan peralatan dan sarana, struktur organisasi, dan lain sebagainya.
b.             Ketersediaan informasi yang diperlukan.
Untuk menyelesaikan masalah dalam kepegawaian, maka perlu dikumpulkan data yang berkaitan dengan masalah tersebut. Data tersebut diolah menjadi informasi yang lengkap, sehingga dapat diambil keputusan dengan baik.

               Mengenai klasifikasi model pengambilan keputusan, pada contoh kasus tersebut terlihat Pemerintah menggunakan model pohon keputusan. Dimana Pemerintah merinci permasalahan yang dihadapi PNS selama ini dan dibuatkan alternatifnya melalui KPE. Sedangkan jenis pengambilan keputusan pembuatan KPE ini adalah Programmed Decision Making (pengambilan keputusan diprogram). Kerana masalah administrasi kepegawaian sudah banyak sekali terjadi dan berulang-ulang, maka dari itu Pemerintah memprogramkan pembuatan KPE.
               Sistem pendukung keputusan pada program KPE ini adalah Undang-Undang dan peraturan kepegawaian yaitu :  Undang- Undang Nomor 43 tahun 1999, Peraturan Kepala BKN Nomor 22 Tahun 2007, Peraturan Kepala BKN Nomor 43 Tahun 2007 dan Peraturan Kepala BKN Nomor 7 Tahun 2008. KPE merupakan bentuk dari Pengolahan Data Elektonik yang merupakan proses manipulasi data ke dalam bentuk yang lebih berarti berupa informasi dengan menggunakan suatu alat elektronik. Terlepas dari berhasil atau tidaknya pembuatan KTE ini, kita tentu mengharapkan program ini dapat berjalan dengan baik dan mampu menjadi jalan keluar dalam permasalah kepegawaian di Indonesia.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengambilan keputusan merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan organisasi. Salah mengambil keputusan dapat berakibat pada organisasi yang dapat dirasakan langsung dan mempengaruhi pengambilan keputusan dimasa mendatang. Pengambilan keputusan merupakan proses identifikasi berbagai alternatif solusi terhadap permasalahan organisasi.
Proses  mempengaruhi dan pengambilan keputusan adalah proses-proses manejerial karena secara nyata dilaksanakan oleh para manajer. Proses-proses ini juga merupakan proses-proses organisasional karena lebih penting daripada manajer individual dalam pengaruhnya pada pencapaian tujuan–tujuan organisasi. Proses organisasi dan manejemen ini merupakan bagian vital dalam sistem organisasi formal dan mempunyai implikasi-implikasi sangat penting terhadap perilaku organisasional maupun manajerial.
            Jadi, dapat disimpulkan bersama bahwa pengambilan keputusan secara manajerial ataupun secara organisasional merupakan suatu proses mancapai kebijakan yang dianggap paling cocok untuk menyelesaikan sebuah permasalahan. Pengambilan keputusan tersebut tidak hanya sebuah pemikiran untuk menyelesaikan masalah tersebut tetapi untuk mendapatkan keputusan yang bijak  dan sesuai diperlukan waktu yang sangat panjang dan melalui proses analisis permasalahan dan sebagainya.







B.     Saran
Dengan adanya KPE yang mana merupakan sebuah sistem yang dapat dikatakan memiliki manfaatnya, yaitu seperti
a.         Mendapat kepastian fasilitas ASKES yang diperoleh
b.         Mendapat kepastian besarnya tunjangan hari tua yang akan diperoleh dari Taspen
c.         Dapat mengetahui profil dan updating data kepegawaian melalui KPE
d.         Dapat mengetahui fasilitas bantuan Taperum
e.         Mendapatkan kemudahan dalam pelayanan transaksi bank dan pembayaran gaji
f.          Meningkatkan kesejahteraan PNS melalui cash back penggunaan KPE dalam transaksi di Merchant

Maka, diharapkan KPE dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam
transaksiyang pada gilirannya akan meningkatkan jam kerja produktif PNS serta kinerjanya. Keputusan pemerintah mengeluarkan KPE ini adalah menciptakan kesejahteraan bagi PNS serta untuk mengatasi problematika yang sering terjadi pada permasalahan kinerja pegawai tersebut. Diharapkan dengan dikeluarkan KPE tersebut para PNS mampu meningkatkan kinerjanya, karena dalam KPE tersebut ada begitu banyak manfaat yang mungkin didapatkan. Dan sebelum KPE ini dikeluarkan secara resmi setidaknya pemerintah melalukan uji coba serta sosialisasi pada beberapa pegawai negeri sipil untuk memastikan bahwa pendapatnya benar dan tepat.




DAFTAR PUSTAKA

Daft. L Richard. 2001. Era Baru Manajemen-edisi 9 Buku 1. Jakarta : Salemba Empat

Stoner, A. F. James, R adward Freeman,Daniel R Gilbert. 1995. Management. New Jersey : Prentice Hall

Sidik, Nur Dude. 2012. Pengambilan Keputusan (Online), (http://dudenur.wordpress.com/2012/10/08/contoh-tipe-pengambilan-keputusan), diakses pada 28 Januari 2013

Indah, Sari Annisa. 2012. Pengambilan Keputusan (online). (http://ilmusosialpendist.blogspot.com), diakses pada 29 Januari 2013

Anuryan Novian. 2012. Model Pengambilan Keputusan (online). (http://noviananuryan.wordpress.com), diakses pada 10 Februari 2013